Sabtu, 31 Juli 2010




Penemuan Kapal Nabi Nuh ASPenemuan Kapal Nabi Nuh AS

Di bawah ini adalah daftar hasil pencarian di internet sesuai lewat google tentunya, dengan kata kunci yang Anda gunakan - Penemuan Kapal Nabi Nuh AS, Klik pada judul hasil pencarian untuk membaca informasi lebih detail mengenai Penemuan Kapal Nabi Nuh AS, Kata kunci yang mungkin terkait adalah: perahu nabi nuh ditemukan, kapal nabi nuh ditemukan, misteri perahu nabi nuh, foto dan gambar Nabi Nuh AS :


Dikisahkan, sekitar 4.800 tahun lalu, banjir bandang menerjang Bumi. Sebelum bencana mahadahsyat itu terjadi, Nabi Nuh -- nabi tiga agama, Islam, Kristen, dan Yahudi, diberi wahyu untuk membuat kapal besar -- demi menyelamatkan umat manusia dan mahluk Bumi lainnya.

Cerita tentang bahtera Nabi Nuh dikisah dalam berbagai buku, sejumlah film dan lain-lain. Sejumlah ahli sejarah dari berbagai negara sudah lama penasaran dengan kebenaran kisah ini.

Source: http://dunia.vivanews.com/news/read/147115-perahu_nabi_nuh_ditemukan_di_turki_

Perahu Nabi Nuh Ditemukan di Turki

Perahu Nabi Nuh yang menyelamatkan manusia dan makhluk bumi lainnya dari banjir bandang sekitar 4.800 tahun lalu ditemukan di Turki. Sisa-sisa perahu Nabi Nuh ditemukan oleh para penjelajah evangelis di ketinggian 13 ribu kaki atau sekitar 3,9 kilometer di sebuah gunung di Turki.

Sekelompok penjelajah evangelis dari Turki dan Cina mengatakan mereka menemukan sisa-sisa kayu dari perahu Nabi Nuh di Gunung Ararat di sebelah timur Turki.

Source: http://rizkythea.blogspot.com/2010/04/perahu-nabi-nuh-ditemukan-di-turki.html
Sekitar 4.800 tahun Lalu dikisahkan Bahwa pada waktu itu banjir bandang Menerjang bumi.Dan sebelum bencana tersebut terjadi,Nabi Nuh di beri wahyu oleh Allah untuk membuat kapal besar guna menyelamatkan umat manusia dan mahluk Bumi.
Dan hal ini rupanya menjadi rasa penasar khususnya bagi kelompok peneliti dari China dan Turki yang tergabung dalam 'Noah's Ark Ministries International',sehingga selama bertahun tahun mereka mencari sisa-sisa perahu legendaris tersebut,untuk membuktikan kebenaran cerita itu.

Source: http://jajang-yusu
p.blogspot.com/2010/04/perahu-nabi-nuh-ditemukan-di turki.html

Bahtera (kapal) Nuh telah lama menjadi kontroversi di dunia arkeologi. Sejarah mencatat bahwa Nuh diperintahkan Tuhan untuk membuat sebuah bahtera karena Tuhan berniat menurunkan hujan maha lebat ke bumi. Alkitab mengisahkan bahwa Nuh mentaati perintah tersebut dan tepat pada waktu yang telah ditentukan Tuhan, maka turunlah hujan yang sangat lebat ke muka bumi dan menenggelamkan semua makhluk hidup yang ada. Nuh beserta keluarganya dan binatang-binatang yang diselamatkannya
kemudian mengapung bersama bahtera tersebut. Alkitab kemudian menceritakan bahwa bahtera tersebut kandas di puncak gunung Ararat.

Source: http://terselubung.blogspot.com/2009/08/penemuan-kapal-nabi-nuh.html
Pemotretan awal oleh Angkatan Udara AS di tahun 1949 tentang adanya benda aneh di atas Gunung Ararat-Turki, dengan ketinggian 14.000 feet (sekitar 4.600 meter)

Kemudian, awal tahun 1960, berita dalam Life Magazine: Pesawat Tentara Nasional Turki menangkap sebuah benda mirip perahu di puncak gunung Ararat yang panjangnya 500 kaki (150 meter) yang diduga perahu Nabi Nuh AS (The Noah’s Ark).

Source: http://moeflich.wordpress.com/2007/11/24/perahu-nabi-nuh-ditemukan/





Label:

posted by abdullah @ 03.08   0 comments
Minggu, 11 Juli 2010
Pada Segala Sesuatu Ada Ayat yang Menunjukkan Keesaan Ilahi

Pada Segala Sesuatu Ada Ayat
yang Menunjukkan Keesaan Ilahi
Sultan al Awliya
Mawlana Shaykh Nazim
13 Juni 2010 Lefke, Cyprus

Dastoor yaa Sayiddee, madad yaa Sultan al-Awliya. (Mawlana Shaykh berdiri.)
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, `Azeez Allah.
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhaan Allah.
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sultaan Allah.

Barakah-barakah-Mu, wahai Tuhan kami, karuniakanlah barakah-Mu yang termulia,
terpuji dan teragung bagi ia yang paling Kau kasihi yang telah Kau ciptakan bagi
segenap makhluq-Mu; yang menjadi sebab sejati akan Kehendak Agung dan Surgawi
Tuhan Semesta Alam, ialah Penutup para Nabi, Sayyidina Muhammad sallAllahu
‘alayhi wa aalihi wasallam. Dan kami memohonkan bagi seluruh hamba-hamba suci-Mu
yang memiliki kedudukan-kedudukan surgawi di kehidupan ini, semoga Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan pada mereka lebih banyak lagi kehormatan dan
kekuatan. (Mawlana Syaikh duduk).

Wahai manusia, wahai pemirsa kami, as-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa
barakaatuh. Maasya Allah. Pertama-tama, dari tingkatan-tingkatan surgawi,
tercurah pepujian dan kehormatan bagi orang-orang yang memahami kedudukan mereka
sebagai hamba, dan mereka adalah orang-orang yang tawadu’, dan mereka tahu untuk
apa mereka diciptakan, dan mereka begitu memelihara misi sejati mereka. Misi
Manusia hanyalah untuk menjadi hamba-hamba bagi Pencipta mereka, Tuhan Semesta
Alam. Allahu Akbar! (Mawlana Syaikh berdiri dan kemudian duduk).

As-salaamu `alaykum, pemirsa-pemirsa kami! Wahai para pemirsa! Jangan biarkan
ada di antara kalian orang yang memata-matai kalian, karena Syaitan menyebar
pembantu-pembantunya untuk memata-matai, “Untuk melihat apa yang dikatakan orang
itu dan kekeliruan apa yang mungkin akan ia ucapkan, untuk dapat kita gunakan
dan tunjukkan ke timur dan ke barat.” [1] Dan saya mengatakan bahwa Ia yang
menaruh hamba ini (yaitu Mawlana Syaikh Nazim, red.) di sini, memberikan pula
perlindungan Ilahiah-Nya bagi hamba tersebut, sehingga mata kalian tak dapat
melihatnya, telinga-telinga kalian tak dapat mendengarnya, atau lidah-lidah
kalian tak dapat berbicara melawan pernyataan-pernyataan Langit yang ia
sampaikan. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengaruniakan pada kita Perlindungan
Ilahiah-Nya.

Dan kita mengucapkan, A’uudzu billahi min asy-Syaithani `r-rajiim. Wahai Tuhan
kami! Jauhkanlah diri kami dari Syaitan dan para pengikutnya. Selama mereka
tidak menginginkan untuk mendengar Kebenaran, maka mereka tetap saja menjadi
orang-orang yang tuli. Selama mereka tidak meminta untuk dapat melihat posisi
yang benar, mereka tak akan dapat melihat, karena mereka adalah orang-orang yang
buta. Dan lidah mereka tak dapat berbicara, karena mereka tak mampu memahami dan
tak mampu pula mencegah pernyataan-pernyataan sejati ini mencapai Manusia [2].
Karena itulah, kami mengucapkan `A’uudzu billahi min asy-Syathani `r-rajiim.
Itulah perlindungan bagi kita yang meliputi diri kita semua. Saat kita
mengucapkan A`uudzu bullahi min asy-Syaithani `r-rajiim, mereka (Syaitan dan
bala tentaranya, red.) tak akan dapat mendengar, mereka tak dapat berbicara, dan
mereka tak dapat memahami. Dan kedudukan mereka berada di bawah level binatang.
Mereka memiliki mata tetapi tak dapat melihat. Mereka memiliki telinga tetapi
tak dapat mendengar. Mereka memiliki lidah tetapi mereka tak mampu berdiri dan
menjadi saksi Kebenaran [3]. Dan kami datang, dan Allah Ta’ala (Mawlana Syaikh
berdiri) meminta hamba-hamba-Nya untuk menjadi orang-orang yang jujur/siddiq dan
menjadi saksi-saksi jujur akan Kebenaran, Kebenaran Abadi! (Mawlana Syaikh
duduk).

Ya, tidaklah kita diciptakan melainkan untuk melihat Kebenaran, untuk mendengar
Kebenaran, dan untuk menyaksikan Kebenaran, dan untuk memahami Kebenaran
Surgawi. Sebagai manusia, kita telah diberikan penawaran Surga. Dan kita
mengucapkan Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim. (Mawlana Syaikh berdiri). Wahai
Tuhan kami, Engkaulah Tuhan kami. Karuniakanlah pada kami pemahaman, untuk dapat
melihat, dan untuk dapat menjadi saksi atas Kebenaran Sejati. (Mawlana Syaikh
duduk). Bahkan hewan-hewan pun, Wahai Manusia, mereka semuanya menyaksikan
Kebenaran pada level mereka masing-masing. Demikian pula setiap atom juga
menjadi saksi atas Kebenaran tersebut!

Fa fii kulli syai-‘in aayatun taduulu annahuu waahidun, suatu deklarasi Surgawi…
fa fii kulli syai-in lahu aayah tadullu annahuu waahidun. Sahiih? Benar? Jika
kalian menerima Nabi kalian sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam dan para
pewaris beliau, maka mereka pun tidak akan membiarkan kalian membuat suatu
kekeliruan, tidak! Mereka akan membenarkanmu. Karena itulah, terkadang beberapa
inspirasi berdatangan, dan kemudian kami mengatakannya dengan cara yang berbeda.
Mereka membuatnya lebih jelas bagi kita karena kita berserah diri pada mereka
dan mereka bertanggung jawab saat mereka menaruh seorang hamba yang lemah ini
untuk berbicara di hadapan segenap ummat. Mereka bertanggung jawab atas hamba
lemah tersebut agar ia tidak membuat kekeliruan, dan mereka akan mengoreksinya
sampai orang-orang yang mendengarnya memahaminya. Tidak penting, apakah kalian
menuangkan susu ke suatu kendi yang besar, atau ke dalam botol kecil, atau ke
dalam gelas atau cangkir, tidak masalah. Tampilan luar bukanlah hal yang
penting. Yang terpenting adalah apa yang sesungguhnya berada di dalamnya, itulah
yang penting. Adalah penting untuk membuat orang-orang memahami, menjadikannya
seperti ini atau seperti itu.

Kita semua adalah pemirsa dan kita semua seperti murid-murid di suatu sekolah
dasar, anak-anak kecil yang masih membutuhkan gurunya untuk membenarkan mereka.
Karena itulah saat kita mengatakan sesuatu, kadang-kadang tampilan luarnya
mungkin berbeda, namun apa yang dikandungnya tetaplah sama. Kalian dapat meminum
air dengan tangan kalian, atau dapat pula meminum air itu dari suatu cangkir
emas, kalian mungkin pula meminum air itu dari suatu kendi biasa, atau dari
suatu kendi perak. Wadah luar tidaklah penting. Apa yang ada di dalamnya, itulah
yang penting.

Karena itulah, kami mengoreksi apa yang barusan kami sampaikan, tidak masalah.
Saya tidak mengetahui apa pun, merekalah [4] yang tahu dan mengamati apa yang
kami ucapkan dan mengoreksinya supaya orang-orang memahaminya. Tetapi jika
orang-orang yang menghadiri pertemuan atau asosiasi seperti ini, datang dan
duduk, namun mengarahkan pemahaman mereka ke tempat lain, ke orang lain… maka
apa yang akan mereka dapat pahami (dari pertemuan ini, red.)? Tak ada. Jadi,
beradalah pada posisi kalian setiap kali kalian diminta untuk berada di situ.
Ada banyak sekali instrumen di sini, dan jika orang-orang tersebut tidak
merawatnya, tentu saja instrumen-instrumen tersebut tidak akan bekerja dengan
baik. Namun, jika mereka merawatnya dengan teliti, model-model instrumen yang
berbeda tidak akan menjadi masalah. Adalah penting untuk memahami, untuk
mengerti.

Karena itulah, para masyayikh pembimbing kita mengamati posisi-posisi kita,
apakah kalian datang kemari secara keseluruhan untuk mendedikasikan diri kalian
di sini. Ataukah, sebagaimana mereka berkata, sebagian di antara yang hadir ini
menaruh pemahaman mereka ke tempat lain, karena pusat pemahaman bukanlah di sini
(Mawlana menunjuk ke kepala beliau), melainkan ada di hati/qalbu. Artinya
orang-orang itu (yang mengarahkan perhatiannya ke tempat lain) hati mereka
datang dan pergi, malah melakukan bisnis di timur dan barat. Lalu apa artinya
mereka duduk di sini? Apa yang akan mereka dapatkan? Nol! Jika seperti ini
(sambil memegang sebuah bel dengan bukaan cungkup mengarah ke bawah) tak sesuatu
pun dapat mengisinya, tetapi jika kalian datang seperti ini (memegang bel dengan
bukaan cungkupnya ke atas) maka kalian dapat mengambil sesuatu. Buatlah
(bukaannya) lebih lebar!

Kapasitas fisik manusia, wujud fisik manusia tidaklah penting. Wujud fisik kita
demikian kecil, tetapi kapasitas pemahaman kita dapat mencapai timur hingga
barat, dari utara hingga selatan, dari Bumi hingga Lelangit! Karena itulah kita
telah dimuliakan oleh Tuhan Semesta Alam, Allah `Azza wa Jalla (Mawlana Syaikh
berdiri) dengan suatu kekhususan yang tidak dikaruniakan kepada satu pun makhluk
lainnya. Inilah salah satu makna dari firman Allah subhanahu wa ta’ala:


wa idh qaala rabbuka li'l-malaa'ikati innee jaailun fil `ardi khalifah,
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (Quran Surah al-Baqarah 2:30)

(Mawlana Syaikh duduk). Seorang khalifah, untuk menjadi wakil. Itulah titik
terakhir yang mungkin untuk dicapai suatu ciptaan. Di luar itu, tak seorang pun
dapat memahami apa yang dipahami Manusia. Tak ada satu makhluq lain pun yang
dapat mencapai kemampuan kita, dan kapasitas yang kita miliki ini tidak pernah
dikaruniakan kepada satu pun makhluk ciptaan lainnya. Al-`Azhamatu lillahi!
Allahu Akbar wa lillaahi `l-hamd [5].
Karena itulah, Wahai Manusia, berusahalah untuk belajar! Kita harus berusaha
untuk belajar. Namun, memang telah ditutup bagi diri kita, tidak ada pembukaan
(fath). Jika suatu pembukaan muncul, tak berhingga jumlahnya samudera-samudera
akan terbuka dalam ranah-ranah yang tak berhingga pula jumlahnya, dan
keseluruhannya akan memberikan tanda-tanda yang mengarah kepada Keagungan Tanpa
Batas, Keagungan Tertinggi, Pujian paling Agung, Kekuatan paling Akbar yang
menjadi milik Tuhan seluruh ummat Manusia, Tuhan seluruh Ciptaan. Kapasitas diri
kita demikian besar, bahkan sekalipun diri kita (secara fisik) adalah ciptaan
yang kecil. Kapasitas diri kita meliputi seluruh alam semesta ini. Bahkan jika
seandainya alam semesta ini memiliki ukuran yang jutaan atau triliunan kali,
atau quadrilliun kali lebih besar, dan lebih besar, dan lebih besar dari alam
semesta yang kita tempati sekarang ini, kita pun masih memiliki suatu kekuatan
untuk menjangkaunya, untuk meliputinya. Allahu Akbar! Ini semua telah diberikan
kepada kita. Allahu Akbar! Subhaan Allah, Sultaan Allah, Kariim Allah. (Mawlana
Syaikh berdiri dan duduk kembali).
Manusia diciptakan dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Saat kita terlahir ke
dunia ini, kita tidak tahu akan apa pun. (Sebenarnya) Mengetahui, tetapi belum
dibukakan. Kita telah dikaruniai suatu kekuatan yang demikian dahsyatnya untuk
memahami. Namun, jika kita melihat pada wujud fisik kita, kita mengatakan bahwa
hal tersebut adalah tidak mungkin. Padahal, siapakah Tuhan Semesta Alam ini?
Dia-lah Ia Yang membuat sesuatu yan tak mungkin menjadi mungkin! Allahu Akbar!
Kita telah dikaruniai kekuatan tersebut, dan tidak hanya kekuatan, tetapi kita
juga dikaruniai wewenang dan otoritas atas kekuatan tersebut, sehingga kita
dapat menggunakan kekuatan itu pula.
Wahai Manusia! Dengarkanlah dan berusahalah untuk ternaungi oleh tajalli
(manifestasi) Surgawi ini, dengan datang kemari. Berusahalah untuk berada
bersama ruhaniyah (spiritualitas) diri kalian. Jika kalian menggunakan kapasitas
fisik diri kalian, maka kalian tak akan mampu menggapainya. Tetapi Allah Ta’ala
telah mengirimkan hamba-hamba suci-Nya, serta Khatamul Anbiya’, Stempel Para
Nabi, Sayyidina Muhammad sallAllahu ’alayhi wa aalihi wasallam (Mawlana Syaikh
berdiri dan duduk), untuk membuat suatu jalan atau membuat sejumlah jalan bagi
Manusia untuk menggapai suatu pembukaan. Siapa yang datang dan memohon, para
Nabi dapat membukakan bagi mereka. Tingkatan para Nabi yang memberikan pembukaan
ini bagi manusia bergantung pada tingkatan orang yang memohonnya.
Hakikat-hakikat seperti ini tak mungkin kalian pelajari hanya dengan membaca
buku. Tidak, tidak. Kalian dapat mencapai samudera-samudera itu hanya melalui
hamba-hamba Surgawi. Para Nabi nampak seperti manusia biasa, tetapi wujud sejati
mereka berasal dari Surga. Cobalah untuk mengerti!

Wahai Manusia! Mereka datang dengan membawa kunci-kunci bagi kekayaan untuk
setiap orang, karena setiap orang yang telah dikaruniai suatu bagian dari
kekayaan Surgawi ini harus pula memiliki kunci suci; bukan sekedar kunci biasa,
tetapi suatu kunci suci, dan kunci-kunci ini memiliki tingkatan-tingkatannya
yang berbeda-beda. Jangan kira bahwa satu kunci dapat membuka segala sesuatunya,
tidak! Ada tak berhingga banyaknya kunci untuk setiap sesuatu yang ada di
Samudera-Samudera Hadirat Ilahi, yang akan terbukabagi para khalifah (wakil),
untuk menunjukkan pada mereka sesuatu dari Keagungan Ilahi milik Tuhan Semesta
Alam. Dan setelah itu, akan berhenti dan hanya ada satu untuk mencapai Hadirat
Ilahi dan posisinya adalah 100% berbeda. Dia hanyalah Satu. Keesaan Tuhan
Pencipta seluruh Ciptaan tak akan pernah menerima dua; Satu untuk satu.

Semoga Allah mengampuni diri kita, dan mengaruniakan pada kita sesuatu untuk
kita pahami. Dan mereka membuat suatu wejangan seperti itu yang mungkin amat
sulit untuk menjumpainya di buku mana pun. Dan setiap kitab suci pernah
menyebutkan hal ini, namun untuk mencapai titik pemahaman seperti ini adalah
musykil, suatu problem. Mereka mendatangi pintu masuknya dan mencoba berbagai
kunci, tapi tak ada yang berhasil membukanya. Ada kunci-kunci khusus untuk
setiap kekayaan surgawi yang dikaruniakan bagi para khalifah / wakil dan mereka
boleh memakai kunci-kunci tersebut dengan seorang Malaikat, tidak sendirian.
Mereka dapat memakai kunci tersebut dengan (bantuan) seorang malaikat atua dua
atau tiga atau tujuh atau 70, dan bergantung pada kekuatan mereka, akan muncul
kekuatan untuk suatu pembukaan. Kita tidak tahu apa-apa! Kita tidak tahu
apa-apa! Pengetahuan Ilahi adalah tanpa batas, tanpa akhir, dan karena Hari
Pembalasan tengah mendekat, mereka memberikannya sekarang bagi kita agar kita
dapat mencicipi sesuatu dari (pengetahuan) Ilaahiyyaat, Divinity, Ketuhanan, dan
di bawah naungannya terdapat tingkatan-tingkatan Surgawi untuk mempersiapkan
diri mereka mendapatkan apa yang mereka tak pernah bayangkan. Mereka berpikir
bahwa Penciptaan ini cuma sekedar suatu kebetulan. Semoga Allah subhanahu wa
ta’ala memaafkan kita semua dan memberikan kepada kita suatu pemahaman yang
dengannya kita dapat mencapai tingkatan-tingkatan Surga itu, dan dari situ kita
dapat terus bergerak, berlanjut, berlanjut, dan terus berlanjut. Sang hamba
bertanya, هَلْ مِن مَّزِيدٍ Hal min mazeed? "Masih adakah tambahan?" (50:30)
Dan malaikat pun menjawab, “Ya, pergilah dan cicipi, pergilah dan pahami, serta
pergilah dan nikmati!”

Semoga Allah mengampuni kita semua demi kehormatan Penutup para Nabi, Sayyidina
Muhammad sallAllahu ‘alayhi wa aalihi wasallam! (Mawlana Syaikh berdiri dan
duduk). Kita memohon ampunan dan kekuatan bagi ruh kita untuk memahami.

Fatihah.

Jika kalian tidak datang ke sini, untuk apa kalian membuat saya berbicara?

(39 menit.)

(Mawlana Shaykh salat dua raka`at Salaat asy-Syukr.)

Catatan penerjemah:
[1] Maksudnya ada di antara pemirsa suhbat yang menggunakan kekeliruan kecil
dalam suhbat atau ucapan Mawlana Syaikh Nazim, untuk mempermalukan beliau dan
mempermalukan pengikut tariqah dan tasawuf.
[2] Lihat Al Quran Surah Al-Baqarah (2) ayat 18:
shummun bukmun 'umyun fahum laa yarji'uuna
”Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang
benar)”
Juga dalam ayat 171 surat yang sama:
….shummun bukmun 'umyun fahum laa ya'qiluuna
”Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.”
[3] Lihat Al-Quran Surah Al-A’raaf (7) ayat 179:
“walaqad dzara'naa lijahannama katsiiran mina aljinni waal-insi, lahum quluubun
laa yafqahuuna bihaa walahum a'yunun laa yubshiruuna bihaa walahum aadzaanun laa
yasma'uuna bihaa, ulaa-ika kaal-an'aami bal hum adhallu, ulaa-ika humu
alghaafiluuna”
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin
dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami
(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk
melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi)
tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang
lalai.”
[4] Mawlana Syaikh Nazhim biasa menggunakan ekspresi ‘mereka’ untuk mengacu
kepada rantai Masyayikh Naqsybandi hingga ke Rasulullah sallAllahu ‘alayhi
wasallam. Hal ini antara lain sebagai bentuk kerendahhatian beliau, sekaligus
muraqabah beliau. Wallahu a’lam bissawab.
[5] Al-`Azhamatu lillah! Allahu Akbar wa lillaahi `l-hamdmaknanya Keagungan
adalah milik Allah! Allah lebih agung dari apa pun dan bagi Allah segala puji!

==============================
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً
=================================

In Everything There Is a Sign Indicating the Lord's Oneness
Sultan al Awliya
Mawlana Shaykh Nazim
13 June 2010 Lefke, Cyprus

Dastoor yaa Sayiddee, madad yaa Sultan al-Awliya.(Mawlana Shaykh stands.)
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, `Azeez Allah.
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhaan Allah.
Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Sultaan Allah.

Your blessings, O our Lord, give Your most glorious, most praised, and most
majestic blessings for Your most beloved one who was just created for every
creation; the real reason for heavenly and majestic demands of the Lord of
Heavens, the Seal of Prophets, Sayyidina Muhammad (s). And we are asking for all
holy ones that are belonging to heavenly stations in this life, may Allah grant
them much more honor and power. (Mawlana Shaykh sits.)

O people, our attenders, as-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh.
Mashaa-Allah. First, coming from heavenly levels, praisings and honor on those
people who know they are servants and they are humble ones and they know for
what they have been created and they are taking much more care for their real
missions. The mission of Mankind is only to be servants for their Creator, the
Lord of Heavens. Allahu Akbar! (Mawlana Shaykh stands and sits.)

As-salaamu `alaykum, our attenders! O our attenders! Don't leave to be among
yourselves spying people, because Shaytan is sending its spies for spying, "To
look at what that one is speaking and what kind of wrong things he may say, and
we may take that wrong one and make a show in the east and west." And I am
saying that One who is making this servant to be here is putting heavenly
protection on that one, so that your eyes are not able to see, your ears are not
able to hear, or your tongues are not able to speak against heavenly
declarations. May Allah Almighty grant us His divinely protection.

We are saying, a`oodhu billahi min ash-Shaytani 'r-rajeem. O our Lord! Make us
far away from Shaytan and its followers. As long as they are not asking to hear
Truth, they are deaf ones. As long as they are not asking to see what is the
true position, they are not looking, because they are blind ones. And their
tongues can't speak, because they are unable to understand and to prevent real
declarations for reaching to Mankind. Therefore, we are saying a`oodhu billahi
min ash-Shaytani 'r-rajeem. That is our protection, surrounding us. When we are
saying a`oodhu billahi min ash-Shaytani 'r-rajeem, they can't hear, they can't
speak, and they can't understand. And their positions are under the levels of
animals. They have eyes but they can't see. They have ears but they can't hear.
They have tongues but they are not able to stand up and to be witnesses for
Truth. And we are coming and Allah Almighty (Mawlana Shaykh stands.) is asking
from His servants to be true ones and be true witnesses for Truth, Eternal
Truth! (Mawlana Shaykh sits.)

Yes, we have only been created for seeing Truth, for hearing Truth, for
witnessing Truth, and for understanding heavenly Truth. We have been offered
what is a heavenly offer for Mankind. And we are saying bismillahi 'r-Rahmani
'r-Raheem. (Mawlana Shaykh stands.) O our Lord, You are our Lord. Make us to
understand, and to hear, and to be witnesses for real Truth. (Mawlana Shaykh
sits.) Even animals, O people, all of them are witnessing Truth on their levels.
And every atom is also witnessing.

Fa fee kulli shayin aayatun tadoolu annahu waahidun, that is a heavenly
declaration... fa fee kulli shayin lahu ayah tadullu annahu waahidun.Saheeh?
True? If you are accepting your Prophet (s) and his inheritors, they are not
leaving you on mistakes, no. They are correcting you. Therefore, sometimes some
inspirations are coming, and when we are saying it in another way. They are
making it more clear for us because we are surrendering to them and they are
responsible when they are putting such a weak servant for addressing nations.
They have responsibility for that weak servant not to make mistakes, and they
are correcting until they are understanding. Doesn't matter, you may put milk in
a big pot, or in a small pot, or in a glass, or in a cup, doesn't matter.
Out-looking (appearance) is not important. What is important is what is really
in it, that is important. It is important to make people to understand, to make
like this, or make like that.

We are attenders and we are like students in primary school, small ones that the
teacher is correcting, and therefore, sometimes we may say something, maybe its
out-looking is different but what is contained in it is the same. You may drink
water in your hand, you may drink water from a golden cup, you may drink water
from an ordinary pot, or you may drink from a silver cup, the out-looking is not
important, but what is inside is important.

Therefore, we are correcting, it doesn't matter. I know nothing, but they know
and they are observing what we are saying and correcting it until people
understand. But if people are attending such a meeting or association, coming
and sitting, but renting their understanding somewhere else, to someone...
what are they going to understand? Nothing. Therefore, be in your position every
time that you have been asked to be in. There are so many instruments here and
if those people are not taking care about them, they are not not working. But if
they are taking care, the different models are not important, no. It is
important to understand.

Therefore, our guides are looking at our positions. If you are coming here
wholly, giving in such a way, and as they said, some of them are renting their
understanding, because the center of understanding is not in here, (Mawlana
points to his head) it is in the heart. That means their hearts are going and
coming, making business east and west, then what will it mean if they are
sitting here? What can they take? Nothing. If like this (holding a bell upside
down) nothing can fill in it, but if coming like this (right side up) then
taking. Make it more wide!

Man's physical capacity, his physical being is unimportant. Our physical being
is so small, but our capacity for understanding reaches from east to west, from
north to south, from Earth to Heavens! Therefore, we have been honored by the
Lord of Heavens, Allah Almighty (Mawlana Shaykh stands.) with such a
qualification that no other creature has been granted. That is one meaning of
Allah's saying:

wa idh qaala rabbuka li'l-malaa'ikati innee jaailun fil `ardi khalifah,
Behold, thy Lord said to the angels: "I will create a vicegerent on earth."
(2:30)

(Mawlana Shaykh sits.) a khalifah, to be deputy. That is the last point a
creature may reach. Beyond that no one is able to understand what Man is
understanding. Not any other creation is reaching our ability, and our capacity
has never been granted to any other creature. Al-`Azhamatu lillah! Allahu Akbar
wa lillaahi `l-hamd.
Therefore, O people, try to learn. We must try to learn. But yet we are closed,
there is no opening. If an opening comes, countless oceans in
countless territories will open, all of them are signaling endless majesty, most
high majesty, most high praising, most high mightiness that belongs to the Lord
of Mankind, the Lord of all Creation. Our capacity is so big even if we are such
small ones. Our capacity is covering the whole universe. If such a universe may
be many, millions or trillions, or quadrillions, bigger, bigger, bigger than
this universe, and we have such a power to reach to them, to cover them. Allahu
Akbar! That is granted to us. Allahu Akbar! Subhaan Allah, Sultaan Allah,
Kareem Allah. (Mawlana Shaykh stands and sits.)
Man is created knowing nothing. When we were born we were knowing nothing.
Knowing, but it was not opened. We have been granted such a power for
understanding, but if we look at our physical beings, we say it is impossible.
Who is the Lord of Heavens? He is that One making the impossible, possible!
Allahu Akbar! We have been granted such a power and not only power, we have also
been granted authority on power, and we can use that power also.

O People! Hear and try to be under this heavenly appearance, coming here. Try to
be with your spirituality. If you are using your physical capacity, you can't
reach it. But Allah Almighty is sending His holy ones and the Seal of Prophets,
Sayyidina Muhammad (s) (Mawlana Shaykh stands and sits.) to make a way or to
make ways for Mankind to reach an opening. Who is coming and asking, prophets
may open to them. The levels of the prophets, that which they are granting to
people are according to the level of the people who are asking. And such
realities you can't learn by reading books, no, no. You can reach to those
oceans through heavenly ones. The prophets appear as Mankind but their real
beings are from Heavens. Try to understand!

O People! They are coming with the keys for everyone's treasures, because
everyone who has been granted such a grant from heavenly treasures must have the
holy key; not an ordinary key, but a holy key, and the keys are in many
different levels. Don't think that one key is opening everything, no. There are
countless keys for everything from Divinely Presence Oceans, that will open for
deputies, to show them something from the heavenly greatness of the Lord of
Heavens. And beyond that, it will stop and there is only one for reaching the
Divinely Presence and his position is just 100% different. He is only One. The
Oneness of the Lord of all Creation is never accepting two; it is One to one.
May Allah forgive us and grant us something for understanding. And they are
making such a speech that perhaps it is difficult to find in books, and every
holy book has mentioned this, but to come to it is mushkil, a problem. They are
coming up to the entrance and using different keys but not opening it. There are
special keys for every heavenly treasure granted to the deputies and they may
use it with an angel, not alone. They may use that key with an angel or two or
three or seven or 70, and according to their powers comes the power for
opening. We know nothing! We know nothing! Heavenly knowledge is never-ending
and because the Last Day is approaching, they are granting it now to
taste something about Ilaahiyaat, Divinity, and under it are heavenly levels to
make them prepared for what they can never imagine. They are thinking that this
Creation is such an accident. May Allah forgive us and give us such an
understanding that we may reach to the levels of Heavens, that from there we may
move, continue, continue, continue. The servant asks, هَلْ مِن مَّزِيدٍ Hal
min mazeed? "Is there any more?" (50:30) And angels respond, "Yes, go and taste,
go and understand, and go and enjoy!"

May Allah forgive us for the honor of the Seal of Prophets, Sayyidina Muhammad
(s)! (Mawlana Shaykh stands and sits.) We are asking for forgiveness and power
to our souls for understanding.

Fatihah.

If you are not coming here, for what are you making me to speak?

(39 minutes.)

(Mawlana Shaykh prays two raka`ats Salaat ash-Shukr.)
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً
posted by abdullah @ 06.27   0 comments
Lingkaran Setan dan Lingkaran Kebaikan
Posted by: "sutono joyosuparto" sutono88@gmail.com sutonojoyosuparto
Sun Jul 11, 2010 5:04 am (PDT)


Allahuma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam. Al Fatiha.
Lingkaran Setan dan Lingkaran Kebaikan Vicious Circle and Virtuous Circle

Pernah dengar kan tentang Lingkaran Setan? Sekali kita berbohong kita harus
berbohong lagi untuk menutupi kebohongan pertama dan seterusnya. Bagaimana
kita lepas dari lingkarang setan? Jangan didobrak, itu mungkin malah akan
membuat kita bingung atau tidak merasa kalau makin terperosok.Bagaimana
langkah alternatifnya?

Kita harus segera memulai membuat lingkaran kebaikan, betapapun kecilnya.
Apakah lingkaran kebaikan itu? Ingat tentang analogi Allah diberi simbol
angka 1, yaitu Sumber Kebaikan Tak Berhingga dan Muhammad diberi simbol
angka 0, yaitu Perfect Sink atau tempat sempurna untuk mengirim? Allah
memuliakannya dengan selalu mengiriminya shalawat melebihi siapapun lainnya,
dia tetap saja 0. Atau dalam bentuk simbol 0/1 = 0. Jadi kalau kita memohon
Allah dengan memunggahkan (up load) Allah Allah ke dalam jantung kita, lalu
kitapun mengirim shalawat kepada Mauhammad s.a.w. sebagaimana apa yang
dikirimkan Allah (tanpa tahu apa persisnya yang dikandung shalawat itu)
terjadilah apa yang disebut lingkaran kebaikan itu. Lingkaran ? Dimana
menyambungnya? Bukankah Muhammad selalu kembali kepada Allah?

Jadi seluruh proses di alam semesta ini selalu berbentuk thawaf. Berbentuk
lingkaran. Lingkaran lingkaran kecil. Dan lingkaran lingkaran besar. Raga
kita yang terdiri atas triliunan sel, dan sel terdiri atas molekul molekul.
Dan molekul dibentuk dari atom atom. Dan di ujungnya atom terdiri atas inti
atau nukleus dan elektron yang berputar putar mengelilingi inti. Tanpa
elektron yang berputar mengelilingi inti itu, tidak akan ada diri kita. Dan
kalau kita melestarikan selalu hadirnya lingkaran kebaikan yang melewati
diri kita, maka dengan sendirinya lingkaran setan yang menyambar kita akan
putus dengan sendirinya.

Dan dengan terbentuknya lingkaran kebaikan yang melewati diri kita, pasti
akan menimbulkan induksi kebaikan di sekitar diri kita, yang mungkin saja
kita tidak tahu dalam bentuk apa. Inilah mungkin yang dimaksud dengan Allah
memberikan pertolongan dalam bentuk atau dari arah yang tidak kita ketahui
sebelumnya.

Ampunkan kami ya Allah yang telah mendzalimi diri kami sendiri. Bi hurmati
habib. Al Fatiha.

Salam

Sutono saimun joyosuparto

11 Juli 2010
posted by abdullah @ 06.25   0 comments
Senin, 26 April 2010
KEAJAIBAN PENCIPTAAN MANUSIA




KEAJAIBAN PENCIPTAAN MANUSIA

Fitriyana Fauziah, S.Psi



Didalam dokumentasi fakta penciptaan manusia yang diterbitkan oleh Harun Yahya adalah sebuah bukti bahwa penciptaan manusia adalah sebuah keajaiban yang hanya Allah-lah yang dapat menciptakannya.
Proses penciptaan manusia diawali dengan masuknya ovarium (sel telur) yang masuk kedalam tuba falopi, sebelum matang tuba falopi siap digunakan dan menarik telur hingga masuk kedalam rahim, pergerakan telur digerakkan oleh rambut-rambut dengan arah yang sama.
Kemudian dilanjutkan masuknya sel sperma kedalam sel telur. Desain pada sperma, yaitu terdiri dari 23 kromosom ditambah dengan 23 kromosom sel telur. Sperma membawa rufo genetic, yang terdiri dari pelindung (kepala) yang membawa bahan dasar manusia yang terdiri dari 46 kromosom, bagian tengah (mesin) yang berhubungan dengan ekor, yang ekornya berputar seperti kipas angin yang bahan bakarnya berupa fruktosa. Sperma seperti mesin yang berkecepatan tinggi, yang menembus membran sel.

 Pembentukan Organ Yang Menakjubkan
Begitu banyak sel sperma yang akan masuk kedalam sel telur, yang jumlahnya mencapai jutaan, akan tetapi yang dapat mencapai telur hanyalah satu sperma saja. Sel telur melepas zat kimia untuk menarik sperma, sperma yang berhasil mencapai kulit akan melepas ekornya dan masuk kedalam sel telur. Menyatunya sperma dan sel telur membentuk sel tunggal yang disebut zigot. Sel tunggal ini merupakan cikal bajal manusia, yang kemudian membelah dan memperbanyak diri. Setelah beberapa minggu sel-sel yang terbentuk mulai tumbuh berbeda satu sama lain dengan mengikuti perintah rahasia yang diberikan kepada mereka.
Ini merupakan suatu keajaiban yang sangat besar yakni sel-sel yang tanpa kecerdasan mulai membentuk organ dalam, rangka, dan otak. Sel otak terbentuk pada dua celah kecil pada salah satu ujung embrio, disini sel otak akan berkembang biak dengan cepat, yang hasilnya yaitu seorang bayi akan memiliki kurang lebih sepuluh milyar sel otak yang kemudian dalam setiap menitnya ditambahkan seratus ribu sel baru. Setiap sel baru menempaykan dirinya sesuai dengan tempatnya dan membuat sambungan dengan sel-sel lain, sehingga didalam otak manusia terdapat sekitar seratus trilyun sambungan. Agar dapat membuat sambungan tersebut, mereka harus menunjukkan kecerdasan yang jauh melebihi tingkat kecerdasan manusia, padahal sel sama sekali tidak memiliki kecerdasan. Hal ini tidak hanya terjadi pada sel otak saja, melainkan setiap sel yang membelah dan memperbanyak diri pada embrio langsung pergi ketempatnya masing-masing.
Pembentukan dalm rahim terus berlangsung, beberapa sel mengalami perubahan, ada yang mengembang dan ada pula yang mengkerut, kemudian ratusan ribu sel berdatangan kemudian saling bergabung membentuk jantung dan pembuluh darah. Pada minggu kelima tangan dan kaki embrio mulai nampak, dan benjolan akan menjadi lengan. Ribuan sel bunuh diri secara massal untuk membentuk jari dan celah-celah. Pada minggu keenam, kedua lubang yang telah dibentuk embrio akan membentuk mata, sebagian sel lainnya membentuk kornea, sebagian pupil, dan sebagian lensa. Dan akhirnya mata terbentuk dan mengandung empat puluh komponen yang berbeda.
Semua uraian yang telah dipaparkan diatas, mengingatkan kita bahwa pendengaran, penglihatan, dan organ tubuh lainnya adalah nikmat besar yang diberikan Allah kepada kita semua. Hal ini talah dijelaskan didalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 78 dijelaskan, “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak menetahui suatu apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”

 Keajaiban Al-Qur’an
Didalm Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menerangkan proses kejadian manusia, antara lain sebagai berikut:
1. Dalam Surat As-Sajdah Ayat 7-8 :
Artinya : “Yang membuat segala sesuatu yang ada Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).”
2. Dalam Surat At-Thariq Ayat 5-7 :
Artinya : “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan ? Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”
3. Dalam Surat Al-Qiyamah Ayat 3-7 :
Artinya : “Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (kedalam rahim).”
4. Dalam Surat Al-Insan Ayat 2 :
Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”
5. Dalam Surat Al-Mu’minun Ayat 12-14 :
Artinya : “Danm sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”
6. Dalam Surat Al-Haj Ayat 5 :
Artinya : ”Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah citentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
Dari ayat diatas dapat difahami, bahwa proses kejadian manusia adalah sebagai berikut:
1. Dari tanah.
2. Dari air hina, yaitu dari air mani dan sperma.
3. Dari air yang terpancar, yang biasa dikenal dengan orgasme.
4. Dari setetes mani yang ditumpahkan kedalam rahim wanita, yang dalam embryologi dikenal sebagai bahan pancaran sperma kedalam rahim melalui vagina masuk ketuba falopi guna bertemu dengan ovum.
5. Dari setetes air mani yang terpancar. Menurut embryologi adalah tahap awal pembuahan yang mana sperma sudah bertemu dengan ovum sehingga menjadi bersatu, atau dengan kata lain penyatuan gemit dari laki-laki dan perempuan.
6. Saripati air mani yang disimpan ditempat yang kokoh (rahim). Hal ini menurut embryologi, zigot berbentuk blastokel dan bersarang diselaput lendir rahim.
7. Segumpal darah, yang menurut embryologi adalah blastokista manusia dalam minggu kedua terbenam dalam lendir rahim.
8. Segumpal daging, menurut embryologi merupakan awal deferensiasi zigot setelah terbenam dilendir rahim.
9. Tulang belulang, segumpal daging diatas membentuk tulang.
10. Daging, tulang tadi dibungjus dengan daging.
11. Makhluk lain artinya peniupan ruh kedalamnya. Ini adalah manusia yang mempunyai cirri-ciri istimewa yang siap untuk meningkat.

 Tiga Tahapan Bayi Dalam Rahim
1. Tahap Pre-embrionik
Tahap ini zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri dengan dinding rahim, yang kemudian sel-sel penyusunnya mengatur diri merewka sendiri guna membentuk tiga lapisan.

2. Tahap Embrionik
Pada tahap ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai embrio, yang organ dan system tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan-lapisan sel tersebut.
3. Tahap Fetus
Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Cirri dalam tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya.
Dalam tahapan ini juga dijelaskan didalam Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 6. “……Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itulahadalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaiman kamu dapat dipalingkan?”
Demikianlah proses penciptaan manusia, yang begitu menakjubkan. Untuk itu wajib jita bersyukur kepada Allah, dan janganlah lupa bahwa Allah telah menciptakan tubuh kita sekali, akan menciptakan kita lagi setelah kematian kita, dan tentunya akan mempertanyakan segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Mereka yang melupakan penciptaan diri mereka sendiri dan mengingkari kehidupan akhirat, benar-benar telah tertipu. Allah telah berfirman tentang orang-orang ini dalam Al-Qur’an : “Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka ia tiba-tiba menjadi penantang yang nyata?. Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh. Katakanlah : ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.,”
posted by abdullah @ 11.22   0 comments

RELEVANSI TASAWUF TERHADAP DUNIA MODERN

Oleh :
Aprilina Hartanti


RELEVANSI TASAWUF TERHADAP DUNIA MODERN
PENGERTIAN TASAWUF
Dari segi bahasa terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubung-hubungkan para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf. Dari segi Linguistik (kebahasan) ini segera dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak yang mulia.
Adapun pengertian tasawuf dari segi istilah atau pendapat para ahli amat bergantung kepada sudut pandang yang digunakanya masing-masing selanjutnya jika sudut pandang yang digunakan manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, maka tasawuf dapat didefinisiokan sebagi upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
v PENGERTIAN MASYARAKAT MODERN
Masyarakat modern terdiri dari dua kata yaitu masyarakat dan modern. Dalam kamus bahasaUmum Bahasa Indonesia W.J.S Poerwardaminta mengartikan masyarakat sebagai pergaulan hidup manusia (himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan yang tentu). Sedangkan modern di artikan yang terbaru, secara baru, mutakhir. Dengan demikian, secara harfiah masyarakat modern berarti suatu himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir. Deliar Noer misalnya menyebutkan ciri-ciri modern sebagai berikut :
· Bersifat rasional, yakni lebih mengutamakan pendapat akal pikiran, dari pada pendapat emosi, sebelum melakukan pekerjaan selalu dipertimbangkan lebih dahulu untuk ruginya, dan pekerjaan tersebut secara logika dipandang menguntungkan.
· Berfikir untuk masa depan yang lebih jauh, tidak hanya memikirkan masalah yang bersifat sesaat, tetapi selalu terlihat dampak sosialnya secara lebih jauh.
· Menghargai waktu, yakni selalu melihat bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
· Bersikap terbuka, yakni mau menerima saran, masukan, baik berupa kritik, gagasan dan perbaikan dari manapun datangnya.
· Berfikir obyektif, yakni melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaanya bagi masyarakat.
v PROBLEMATIKA MASYARAKAT MODERN
Sikap hidup yang mengutamakan materi (materialistik) memperturutkan kesenangan dan kelezatan syahwat (hedonistik) ingin menguasai semua aspek kehidupan (totaliteristik) hanya percaya pada rumus – rumus pengetahuan empiris saja, serta paham hidup positivistis yang bertumpu pada kemampuan akal pikiran manusia tampak lebih menguasai manusia yang memegang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ditangan mereka yang berjiwa dan bermental demikian itu, ilmu pengetahuan dan teknologi modern memang sangat mengkhawatirkan. Mereka akan menjadi penyebab kerusakan di daratan dan di lautan sebagaimana di isyaratkan Al-Qur’an (Lihat QS.Al-Rum 30;41)
Dari sikap mental yang demikian itu kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern sebagai berikut :
1. Desintegrasi Ilmu Pengetahuan
Kehidupan moden antara lain ditandai oleh adanya spesialisasi di bidang ilmu pengetahuan. Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki paradigma sendiri dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
2. Kepribadian yang terpecah (Split personality)
Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual dan berkotak-kotak itu, maka manusianya menjadi pribadi yang terpecah (split personality). Jika proses keilmuan yang berkembang itu tidak berada di bawah kendali agama, maka proses kehancuran pribadi manusia akan terus berjalan. Dengan berlangsungnya proses tersebut. Semua kekuatan yang lebih tinggi untuk mempertinggi derajat kehidupan manusia menjadi hilang, sehingga bukan hanya kehidupan kita yang mengalami kemerosotan tetapi juga kecerdasan dan moral kita.
3. Penyalahgunaan Iptek
Terlepas dari ilmu pengetahuan dan teknologi dari ikatan spiritual kemampuan membuat senjata telah diarahkan untuk tujuan penjajahan satu bangsa atau bangsa lain.
4. Pendangkalan iman
5. Pola hubungan Materialilstik
6. Menghalalkan segala cara
7. Stress dan Frustasi
8. Kehilangan harga Diri dan Masa Depanya
Problem masyarakat modern menurut erich Fromm, karakter masayarakat modern diwarnai oleh orientasi pasar dimana keberhasilan seseorang bergantung pada sejauh mana nilai jualnya di pasar (1999) masayarakat (manusia) modern mengalami dirinya sebagai penjual sekaligus sebagai komoditas untuk dijual di pasar
Maka penghargaan atas dirinya ditentukan oleh nilai jualnya yang tinggi dan dihargai di pasar, Akhirnnya setipa orang didorong berjuang keras menjadi pekerja sukses dan kaya demi penegasan atas keberhasilanya itu. Kemakmuran melambangkan nilai jualnya yang tinggi dan dihargai di pasar. kemiskinan dimaknai sebagai sebaliknya, kebaikan, kejujuran, kesetiaan pada kebenaran dan lkeadailan sipandang tidak bernilai jika tidak memberikan kebenaran manfaat bagi kesksesan dan kemakmuran. Sejauh kondisi ekonominya tidak makmur, dia dinilai belum sukses. Kondisi ini menandakan masayarakat modern mengalami aliensi (keterasingan) mereka menilai manusia tidak lagi berpijak pada kualitas kemanusiaan, melainkan oleh keberhasilanya dalam mencapai kekayaan materil (Fromm,1999)
Keadaan ini memalingkan kesadaran manusia sebagai makhluk termulia. Keutamaan dan kemulianya menyatu desngan kekuatan kepribadianya. Bukan bergantung pada sesuatu diluar dirinya. karena itu, masayaraklat modern memngalami depersonilisasi kehampaan dan ketidakbermaknaan hidup.
Eksistensinya bergantung pada pemilikan dan penguasaan pada symbol kekayaan, hasrat mendapatkan harta yang berlimpah melampaui komitmenya terhadap solidaritas social. Ini didorong pandangan bahwa orang banyak harta merupakan manusia unggul, ditengah alienasi semacam ini pemikiran hamka dalam beberapa bukunya terutama tasawuf Modern dan Tafsir Al-Azhar, memberikan suatu pencerahan bagi masayarakat modern.
v RELEVANSI TASAWUF PADA MASYARAKT MODERN
Banyak cara yang diajukan para ahli untuk mengatasi masalah tersebut dan salah satu cara yang hampir disepakati para ahli adalah dengan cara mengembangkan kehidupan yang berakhlak dan bertasawuf. Salah satu tokoh yang begitu sungguh-sungguh memperjuangkan akhlak tasawuf bagi mengatasi masalah tersebut adalah Husein Nashr. Menurutnya, faham sufisme ini mulai mendapat tempat di kalangan masayarakat (termasuk masyarakat barat) karena mereka mulai mencari-cari dimana sufisme yang dapat menjawab sejumlah masalah tersebut.
Sufisme perlu dimasyarakatkan pada kehidupan modern yang sekarang karena terdapat 3 tujuan yang penting yaitu :
· Turut serta terlibat dalam berbagai peran dalam menyelamatkan kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat hilangnya nilai-nilai spiritual.
· Memperkenalkan literatur atau pemahaman tentang aspek esoterik (kebatinan) Islam, baik terhadap masyarakat islam yang mulai melupakannya maupun non islam, khususnya terhadap masyarakat barat
· Untuk memberikan penegasan kembali bahwa sesungguhnya aspek esoterik Islam, yakni sufisme, yaitu jantung dari ajaran islam sehingga bila wilayah ini kering dan tidak berdenyut , maka keringlah aspek-aspek lain ajaran islam
Relevansi Tasawuf dengan problem manusia modern adalah karena Tasawuf secara seimbang memberikan kesejukan batin dan disiplin syari’ah sekaligus. Ia bisa difahami sebagai pembentuk tingkah laku melalui pendekatan Tasawuf suluky, dan bisa memuaskan dahaga intelektuil melalui pendekatan Tasawuf falsafy. Ia bisa diamalkan oleh setiap muslim, dari lapisan sosial manapun dan di tempat manapun. Secara fisik mereka menghadap satu arah, yatiu Ka’bah, dan secara rohaniah mereka berlomba lomba menempuh jalan (tarekat) melewati ahwal dan maqam menuju kepada Tuhan yang Satu, Allah SWT. Tasawuf adalah kebudayaan Islam, oleh karena itu budaya setempat juga mewarnai corak Tasawuf sehingga dikenal banyak aliran dan tarekat.Telah disebut di muka bahwa berTasawuf artinya mematikan nafsu dirinya untuk menjadi Diri yang sebenarnya. Jadi dalam kajian Tasawuf, nafs difahami sebagai nafsu, yakni tempat pada diri seseorang dimana sifat-sifat tercela berkumpul, Al Ashlu Al Jami` Li As Sifat Al Mazmumah Min Al Insan. Nafs juga dibahas dalam kajian Psikologi dan juga filsafat. Dalam upaya memelihara agar tidak keluar dari koridor Al-Qur’an maka baik Tasawuf maupun Psikologi (Islam) perlu selalu menggali konsep nafs (dan manusia) menurut Al-Qur’an dan hadis.
Tasawuf dan modernitas pada dasarnya sejak awal perkembangan isalam gerakan tasawuf mendapat sambutan luas di kalangan umat islam. Bahkan penyebaran islam di Idonesa lebih mudah berkat dakwah menggunakan pendekaatan tasawuf. Penekanan pada sisi esoteric agama (hal-hal yang bersifat batiniah dari agama) lebih mengunfdang daya tarik ketimbang eksoteriknya (Formalitas ritual agama)
Salah satunya disebabkan oleh adanya persinggungan antara sisi esoteric dengan pergulatan eksistensi manusia. Kecenderungan aniomisme dan dinamisme (kepercayaan terhadap benda-benda yang mengandung keramat dan ruh-ruh leluhur yang bisa menjadi perantara kepada Tuhan) misalnya menyiratkan ketertarikan yang besar terhadap sisi esoteric itu. Factor seperti inilah yang mendorong Hamka meneliti Tasawuf sebagaimana ia jelaskan dalam bukunya : “Tidaklah dapat diragui lagi bahwasana tasawuf adalah salah satu pusaka keagamaan terpenting yang mempengaruhi perasaan dan pikiran kaum muslimin (1981;20)
Luasnya pengaruh tasawuf dalam hampir seluruh episode peradaban islam menandakan tasawuf relevan dengan kebutuhan umat islam. Menurut Hamka tasawuf ibarat jiwa yang menghidupkan tubuh dan meruoakan jantung dari keislaman.
Dalam masyarakat modern fenomena ketertarikan terhadap pengajian bernuansa tasawuf mencerminkan adanya kebutuhan untuk mengatasi problem alenasi yang diakibatkan modernitas. Modernitas memberikan kemudahan mhidup tetapi tidak selalu memberikan kebahagiaan
Intisari ajaran tasawuf sebagaimana paham mistisme dalam agama-agama lain adalah bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa dengan kesadaranya itu berada di kehadirat-Nya. Upaya ini antara lain dilakukan kontemplasi, melepaskan diri dari jeratan dunia yang senantiasa berubah dan bersifat sementara. Sikap dan pandangan sufistik ini sangat diperlukan oleh masyarakat modern yang mengalami jiwa yang terpecah sebagaimana disebutkan, asalkan pandangan terhadap tujuan tasawuf tidak dilakukan secara ekslusif dan individual, melainkan berdaya aplikatif dalam meresponi berbagai masalah yang dihadapi.
Kemampuan berhubungan dengan Tuhan ini dapat mengintegrasikan seluruh ilmu pengetahuan yang tampak berserakan karena melalui tasawuf ini seseorang disadarkan bahwa sumber segala yang ada ini berasal dari Tuhan. Dengan adanya bantuan tasawuf ini, maka ilmu pengetahuan satu dan lainya tidak akan bertabrakan karena ia berada dalam satu jalan dan satu tujuan. Selanjutnya tasawuf melatih manusia agar memiliki ketajaman batin dan kehalusan budi pekerti. Sikap batin dan kehalusan budi yang tajam ini menyebabkan ia akan selalu mengutamakan pertimbangan kemanusiaan pada setiap masalah yang dihadapi dengan demikian ia akan terhindar dari melakukan perbuatan perbuatan yang tercela menurut agama
selanjutnya ajaran tawakkal pada Tuhan menyebabkan ia memiliki pegangan yang kokoh, karena ia telah mewakilkan atau menggadaikan dirinya sepenuhnya pada Tuhan, sikap tawakkal ini akan mengatasi sikap stress yang dialami oleh manusia. Sikap materialistic dan hedonistic yang merajalela dalam kehidupan modern ini dapat diatasi dengan menerapkan konsep zuhud, yang pada intinya sikap yang tidak mau diperbudak atau terperangkap oleh pengaruh duniawi yang sementara itu. Jika sikap ini tidak mantap, maka ia tidak akan berani menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan , sebab tujuan yang ingin dicapai dalam tasawuf adalah menuju Tuhan, maka caranyapun harus ditempuh dengan cara yang disukai Tuhan.
Demikian pula ajaran uzlah yang terdapat dalam tasawuf yaitu usaha mengasingkan diri dari terperangkat oleh tipu daya keduniaan, dapat pula digunakan untuk membekali masyarakat modern agar tidak menjadi sekruft dari mesin kehidupan. Yang tidak tahu lagi arahnya mau dibawa kemana. Tasawuf dengan konsep uzlahnya itu berusaha membebaskan manusia dari perangkap-perangkap kehidupan tapi ia tetap mengendalikan aktivitasnya sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan, dan bukan sebaliknya larut dalam pengaruh keduniaan. Terakhir problematika masyarakat modern diatas adalah sejumlah manusia yang kehilangan masa depanya, merasa kesunyian dan kehampaan jiwa di tengah-tengah derunya laju kehidupan.
Abad yang berkembang telah tiba, teknologi yang modern semakin berkembang. Perkembangannya seiring dengan perubahan waktu. Siapa yang tidak bisa mengejar perkembangan berarti ketinggalan zaman. Inilah perkataan yang memancing kita terjerumus terjun ke dalam tawaran kemodernismean.
Modernisme merupakan tanda kemajuan dan moderniame juga merupakan tanda kemunduran suatu bangsa. Perkembangan dalam berbagai bidang, dari bidang ekonomi sampai bidang teknologi. Hal telah banyak membuat kita lupa akan daratan kita –tujuan awal– yang sejak awal kita bangun. Kenyataannya, modernisme makin hari membawa diri kta terselubungi dengan perkembangan teknologi.
Efeknya, penghayatan terhadap Islam mulai digantikan dengan penghayatan duniawi yang serba ingin modern. Prinsip materiaistik memenuhi otak pikiran, yang melepaskan kontrol agama dan kebebasan bertindak demi memenuhi modernisme telah berkuasa untuk mengalahkan terapi sufisme atau tasawuf.
Masyarakat modern semakin mendewakan keberadaan ilmu pengetahuan, maka seakan-akan kita berada pada wilayah pinggiran yang bermadzab ke-barat-an dan bahkan kita hampir-hampir kehilangan visi kailahian. Hal inilah yang membuat kita makin stress dan gersang hati kita dengan dunia, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.
Dalam teori kesuksesan yang diterapkan oleh Ary Gynanjar yang mengilustrasikan keberadaan diri kita sudah dan telah memiliki kekuatan atau kemampuan yang berupa IQ, EQ dan SQ. Yang mana, ketika kemampuan itu membentengi manusia dalam hariannya untuk menjadi manusia yang sukses atau manusia yang kamil. Untuk itulah, teori yang diterapkan oleh Ary Gynanjar harus diseimbangkan dalam diri personal. Sebab, akibat yang ditimbulkan dari ketidakseimbangan tersebut akan merubah diri seorang hidup tanpa peganggan yang lari sana dan lari sini, ikut sana dan ikut, tidak punya prinsip yang diandalkan.
Wujud dari kemampuan manusia, umunnya berupa kekuatan ekonomi, teknologi, dan kekuatan ibadiyah. Wajar sekali, kekuatan ekonomi dan teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang keberhasilan umat Islam demi menjaga dan mengangkat harkat dan martabat umat itu sendiri. Hal ini disebabkan maraknya perkembangan dan kebutuhan duniawi yang marak juga. Maka dari itu, keselamatan seseorang ditentukan oleh pribadi masing-masing, di mana ia semakin menjaga martabat Islam, semakin pula dirinya terjaga dari arus besarnya kemodernismean.
Keseimbangan memang dibutuhkan, tapi realita yang terjadi ketika insan bertaqorub ilahirobbi yang mana mereka menjalani hidup penuh dengan nuasa tasawuf tidak disertai yang namanya EQ. Sehinga yang terjadi, mereka hanya bisa dekat dengan Tuhannya tapi tidak dekat dengan lingkungannya yakni masyarakat sekitarnya.
Sebagai muslim yang beritikad shaleh untuk agama, berkeyakinan baik dengan adanya perkembangan zaman, hendaknya menyeimbangi pekembangan tersebut bukan mengikuti bahkan terpengaruh perkembangan zaman. Untuk itu, pertebal kekuatan keilmuan untuk menyeimbangi perkembangan zaman. Perlu kita ingat sejenak dalam surat al-Fajr ayat 27-30 yang artinya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan puas dan diridhoi Allah, masuklah ke dalam golonganku (yang beramal shaleh), dan masuklah ke dalam surgaku”. Ayat ini bisa kita renunggi, tatkala kita terbawa arus modernisme, hendaklah dan segerahlah kembali ke jalan Allah.
Sekularitas Tasawuf menjadi jawaban ini semua, harapan terbesar dengan keberadaan buku ini, menjadikan manusia berpaling sejenak untuk mangapai lagi sifat keilahiannya yang sering kali pudar dengan modernisme. Ajakan dan rayuan semata, telah membutakan sekilas perjuangan yang selama ini kita rintis. Seyogyanya kemampuan mengeksistensikan kembali tasawuf-lah yang bisa menyayat sedikit gemerlap hujatan hitam di dunia modern ini.
Mari kita buka, lembar per lembar simbol-simbol Islam telah dipakai untuk menutupi kekhilafan mereka. Tameng Islam yang suci menjadi korban simbolistik mereka. Memang bentul, Islam sangat demokrasi pada umatnya tapi sudahkah kita adil dalam meninteraksikan konsep kebangsaan dalam keagamaan. Sehingga terciptalah konsep baru yang lebih moderat terhadap lingkungan masyarakkat kita.
Penjelasan yang sama, berintikan pada keseimbangan tercakup dalam teori ESQ tersebut menjadikan interaksi dengan sesama manusia bisa terjalin damai. Sebagaimana tasawuf merupakan bagian dari agama Islam yang mana merupakan jalan menuju pendekatan kepada Allah swt.
Selama ini, tasawuf dipandang sebelah mata oleh sebagian umat Islam sendiri. Mereka beranggapan, seorang yang bertasawuf malah tidak kenal dengan dunia, tidak kenal toleransi, dan lainnya. Sebenarnya, jika diamati secara seksama justru dengan bertasawuf semakin banyak nilai, kesusilaan dan norma yang dilahirkan dari tubuh tasawuf.
Realitanya, yang dikatakan modernisme malah berpaling pada kemunduran. Hal ini disebabkan oleh krisis peradapan modern bersumber dari penolakan terhadap hakikat ruh dan peyingkiran ma’nawiyah secara grandual alam kehidupan manusia. Manusia modern mencoba hidup dengan roti semata, meraka bahkan berupaya “membunuh” Tuhan dan menyatakan kebebasan dari kehidupan akhirat.
Dari sinilah, hanya kita yang tahu mana yang lebih panting dari beberapa kebutuhan kita, kedewasaan semakin bertambah manakalah kita semakin dewasa dengan keberadaan Allah swt.

Tasawuf positif dan dialog kemanusiaan

Untuk memahami makna tasawuf itu, memang diperlukan pengertian yang mendalam: yakni maknanya dalam keseluruhan keberagamaan, dan kaitannya dengan penciptaan kehidupan kemanusiaan yang lebih baik. Inilah yang disebut "tasawuf positif", sebuah
tasawuf yang terbuka kepada kebutuhan-kebutuhan dasar manusia untuk pertumbuhan, keseimbangan dan harmoni. Dengan tasawuf positif ini, terbuka juga kemungkinan dialog dengan berbagai ragam spiritualitas agama-agama, maupun non-agama yang semuanya sebenarnya dewasa ini menghadapi masalah besar bersama yaitu ancaman kemanusiaan!
Macam-macam tasawuf telah berkembang mengatasi krisis global kemanusiaan. Karena itu dialog di antara sesama penganut tasawuf, walaupun dari berbagai agama, bisa menyumbangkan wacana untuk berbagai krisis kemanusiaan. Apa yang disebut Hans Kung dengan "kebutuhan akan Etika global" tampaknya bisa dipenuhi dengan kerja sama agama-agama, dimulai dari pandangan positif terhadap hal yang paling dasar dari agamanya sendiri-the heart of religion, yaitu hakikat tasawuf itu sendiri, yang bisa mempertemukan berbagai agama. Dari sini kita bisa merambah kepada dialog bahkan passing over ke arah agama lain, untuk menggali dan mendapatkan kekayaan perspektif
rohani.
Kalau kita mengamati perkembangan kesadaran mengenai tantangan etika global itu, perkembangan tasawuf (dalam hal ini "tasawuf antar-agama") memang telah melandasi usaha-usaha bersama mencari sebuah alternatif atas pandangan kebudayaan modern yang mekanistik, sekularistik, ke arah cara pandang yang lebih ekologis dan holistik. Di sini tasawuf bertemu dengan spiritualitas agama-agama (Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, mistik Kristen, new age, spiritualitas dari kearifan lokal dan seterusnya), yang bersama-sama diharapkan dapat mendorong massa yang kritis untuk melihat dunia ini secara baru. Inilah yang disebut Marilyn Ferguson sebagai The Aquarian Conspiracy
(konspirasi Aquarius) yang menjadi pertanda dari kebangkitan tasawuf di awal milenium.
Tasawuf memang mempunyai filsafat yang begitu mendalam mengenai spiritualitas dan segi-segi religiusitas keberagamaan, sehingga harapan banyak kalangan mengenai healthy-spirituality memang bisa diperoleh dari tasawuf positif ini, di tengah ancaman "keberagamaan yang sakit" yang muncul karena otoritarianisme dalam beragama-yang dalam tasawuf digambarkan sebagai nafs ammarah bi 'l-su (nafsu yang mendorong kepada keburukan, Q. 12:53).
Tasawuf menjanjikan penyelamatan. Apalagi di tengah berbagai krisis kehidupan yang serba materialis, hedonis, sekular, plus kehidupan yang makin sulit secara ekonomis maupun psikologis itu, tasawuf memberikan obat penawar rohani, yang memberi daya
tahan. Dalam wacana kontemporer, sering dibahas tasawuf sebagai obat mengatasi krisis kerohanian manusia modern yang telah lepas dari pusat dirinya, sehingga ia tidak mengenal lagi siapa dirinya, arti dan tujuan dari kehidupan di dunia ini. Ketidakjelasan atas makna dan tujuan hidup ini memang sangat tidak mengenakkan, dan membuat penderitaan batin. Maka mata air tasawuf yang sejuk dan memberikan penyegaran dan
penyelamatan pada manusia-manusia yang terasing itu.
Mewujudkan cita-cita ini, bukanlah hal yang berlebihan. Apalagi dewasa ini tampak perkembangan yang menyeluruh dalam ilmu tasawuf dalam hubungan inter-disipliner. Beberapa contoh bisa disebut di sini, seperti pertemuan tasawuf dengan fisika, dan sains modern yang holistik, yang membawa kepada kesadaran arti kehadiran manusia dan tugas-tugas utamanya di muka Bumi-segi yang kini disebut The Anthropic Principle; pertemuan tasawuf dengan ekologi yang menyadarkan mengenai pentingnya kesinambungan alam ini dengan keanekaragaman hayatinya, didasarkan pada paham kesucian alam; pertemuan tasawuf dengan penyembuhan alternatif yang memberikan kesadaran bahwa masalah kesehatan bukan hanya bersifat fisikal, tetapi lebih-lebih
ruhani: tasawuf memberikan visi keruhanian untuk kedokteran, pertemuan tasawuf dengan psikologi baru yang menekankan segi transpersonal; dan lain-lain pertemuan interdisipliner yang intinya sama: semua menyumbang kesadaran bahwa arti tasawuf
dewasa ini bukan hanya pada kesalehan formal, tetapi justru terutama etika global! Untuk itu tasawuf memang perlu wujud dalam cara hidup. Cara hidup tasawuf bukan terutama benar dari formalnya, tetapi bagaimana nilai-nilai tasawuf itu menjadi way of life!

Tasawuf tanpa substansi

Melihat perkembangan Islam di Indonesia, belakangan ini memang kelihatan ada pergeseran orientasi keberagamaan dari kesalehan formal kepada kesalehan sufistik. Persis pada titik ini "demam tasawuf" yang sedang melanda masyarakat Islam ini begitu
mengkhawatirkan dan perlu mendapat perhatian. Seperti kita tahu, Islam di Indonesia telah berkembang sedemikian rupa sehingga kini tampak sangat formalis dalam beragama, seolah tidak ada lagi segi religiusitasnya. Bentuk-bentuk kesalehan
formal dan kesalehan individual begitu menonjol. Keberagamaan sangat semarak, rumah ibadah berkembang pesat di mana-mana, jumlah orang naik haji meningkat, tetapi dari segi substansial, sebagai bangsa, keberagamaan rupanya belum mencerminkan nilai-nilai Islam. Apa yang disebut megalitarianisme, keadilan, kesadaran humanitarian, hormat kepada hukum, dan hak-hak asasi manusia, kesadaran lingkungan, kebersihan, penghargaan terhadap orang yang lemah, sikap inklusif dan pluralis, dan seterusnya, yang jelas merupakan nilai-nilai dasar agama, ternyata tidak tercermin dalam kehidupan masyarakat. Padahal kegairahan dalam beragama begitu tinggi, suasana keagamaan begitu mencolok.
Dari situlah kemudian kita sangat mengkhawatirkan demam tasawuf belakangan ini. Kalau demam tasawuf itu hanya kepanjangan saja dari kesalehan, lantas apa maknanya? Antara tasawuf dan bukan tasawuf tidak ada bedanya: sama-sama kesalehan formal yang tidak mencerminkan religiusitas! Demam tasawuf mudah-mudahan tidak hanya merupakan kelanjutan dari kesalehan formal, yang kalau hanya begini, ya ibarat buih dalam lautan: tidak bermakna
apa-apa secara sosial!
Maka kita berharap demam tasawuf ini, tidak merupakan langkah mundur dalam beragama, tetapi merupakan awal dari perkembangan Islam di Indonesia yang diharapkan dapat mewujudkan kehidupan keagamaan yang lebih terbuka, inklusif-pluralis, yang memberi rahmat kepada semua orang. Demam tasawuf semoga merupakan salah satu pertanda dari tumbuhnya kesadaran baru dalam mencari sumbangan agama-agama terhadap tantangan etika global di atas. Namun itu semua tergantung dari kemampuan kita dalam menyajikan tasawuf yang positif, bukan yang eksesif.

Makna Tasawuf dan Problem Eksistensi menurut Buya Hamka

Dalam lintasan sejarah pemikiran Islam di Indonesia, Buya Hamka tercatat sebagai salah seorang pemikir Islam modern yang sangat produktif. Ini ditunjukkan dengan begitu banyak karyanya dalam bidang keislaman.
Yang paling fenomenal dari sejumlah karyanya itu adalah Tafsir Al-Azhar. Kemampuan Hamka sungguh mengagumkan mengingat beliau bukanlah seorang sarjana dengan pendidikan formal yang tinggi. Hamka hanya otodidak.
Beliau merepresentasikan peralihan transmisi (pewarisan ilmu-ilmu keislaman) dari corak tradisional atau meminjam istilah Azyumardi Azra dari isnad dan silsilah (mata rantai pewarisan) tradisional menjadi isnad dan silsilah modern (Azra, 2005). Corak tradisional menunjukkan adanya transmisi melalui pertemuan langsung antara murid dan guru.
Otoritas guru dan sanad yang menyertainya memiliki nilai yang tinggi dalam pewarisan keilmuan. Pada gilirannya cenderung menimbulkan kesamaan mazhab dan aliran teologi pada garis sanad dan silsilah yang ada. Transmisi tradisional meniscayakan mata rantai isnad dan silsilah yang homogen. Pada transmisi modern, pewarisan itu tidak mengharuskan pertemuan murid dan guru. Karena itu, isnad dan silsilah keilmuannya terbentuk dari beberapa sumber berbeda.
Dengan demikian, Buya Hamka adalah salah satu intelektual Islam yang merepresentasikan pola transmisi modern. Dalam pandangan Nurcolish Madjid, kelebihan lainnya adalah kesanggupan Buya menyatakan pikiran dalam ungkapan-ungkapan modern dan kontemporer.
Karena itu, Buya berhasil menjalin komunikasi intelektual dengan kalangan terpelajar tanpa canggung dan hambatan. Pikiran-pikirannya diterima di kalangan luas, khususnya umat Islam Indonesia yang sering diidentifikasi sebagai modernis atau pembaharu (1997: 123-124). Upaya memperingati kelahiran Buya Hamka yang lahir 17 Februari 1908 bukanlah suatu pengkultusan terhadapnya, melainkan upaya untuk melihat dan mengkaji kembali kontribusi dan relevansi pemikirannya dalam kehidupan masyarakat modern.

Problem masyarakat modern terhadap tasawuf

Menurut Erich Fromm, karakter masyarakat modern diwarnai oleh orientasi pasar, di mana keberhasilan seseorang bergantung pada sejauh mana 'nilai jualnya' di pasar (1999). Masyarakat (manusia) modern mengalami dirinya sebagai penjual sekaligus sebagai komoditas untuk dijual di pasar.
Maka, penghargaan atas dirinya ditentukan oleh nilai-nilai yang diakui oleh pasar. Akhirnya, setiap orang didorong berjuang keras menjadi pekerja sukses dan kaya demi penegasan akan keberhasilannya itu.
Kemakmuran melambangkan nilai jualnya yang tinggi dan dihargai di pasar. Kemiskinan dimaknai sebagai sebaliknya. Kebaikan, kejujuran, kesetiaan pada kebenaran dan keadilan dipandang tidak bernilai jika tidak memberikan manfaat bagi kesuksesan dan kemakmuran. Sejauh kondisi ekonominya tidak makmur, dia dinilai belum sukses.
Kondisi ini menandakan masyarakat modern mengalami alienasi (keterasingan). Mereka menilai manusia tidak lagi berpijak pada kualitas kemanusiaan, melainkan oleh keberhasilannya dalam mencapai kekayaan materil (Fromm, 1999).
Keadaan ini memalingkan kesadaran manusia sebagai makhluk termulia. Keutamaan dan kemuliaannya menyatu dengan kekuatan kepribadiannya, bukan bergantung pada sesuatu di luar dirinya. Karena itu, masyarakat modern mengalami depersonalisasi, kehampaan, dan ketidakbermaknaan hidup.
Eksistensinya bergantung pada pemilikan dan penguasaan pada simbol kekayaan. Hasrat mendapatkan harta yang berlimpah melampaui komitmennya terhadap solidaritas sosial. Ini didorong pandangan bahwa orang banyak harta merupakan manusia unggul. Di tengah alienasi semacam ini pemikiran Hamka dalam beberapa bukunya, terutama Tasawuf Modern dan Tafsir Al-Azhar, memberikan suatu pencerahan bagi masyarakat modern.
Tasawuf dan modernitas
Pada dasarnya sejak awal perkembangan Islam, gerakan tasawuf mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam. Bahkan penyebaran Islam di Indonesia lebih mudah berkat dakwah menggunakan pendekatan tasawuf. Penekanan pada sisi esoterik agama (hal-hal yang bersifat batiniah dari agama) lebih mengundang daya tarik ketimbang eksoteriknya (formalitas ritual agama).
Salah satunya disebabkan oleh adanya persinggungan antara sisi esoterik dengan pergulatan eksistensi manusia. Kecenderungan animisme dan dinamisme (kepercayaan terhadap benda-benda yang mengandung keramat dan ruh-ruh leluhur yang bisa menjadi perantara kepada Tuhan), misalnya, menyiratkan ketertarikan yang besar terhadap sisi esoterik itu. Faktor seperti inilah yang mendorong Hamka meneliti tasawuf, sebagaimana dia jelaskan dalam bukunya: "Tidaklah dapat diragui lagi bahwasanya tasawuf adalah salah satu pusaka keagamaan terpenting yang memengaruhi perasaan dan pikiran kaum Muslimin" (1981: 20).
Luasnya pengaruh tasawuf dalam hampir seluruh episode peradaban Islam menandakan tasawuf relevan dengan kebutuhan umat Islam. Menurut Hamka, tasawuf ibarat jiwa yang menghidupkan tubuh dan merupakan jantung dari keislaman.
Dalam masyarakat modern, fenomena ketertarikan terhadap pengajian bernuansa tasawuf mencerminkan adanya kebutuhan untuk mengatasi problem alienasi yang diakibatkan modernitas. Modernitas memberikan kemudahan hidup, tetapi tidak selalu memberikan kebahagiaan.
posted by abdullah @ 11.15   0 comments
about me
Foto Saya
Nama:
Lokasi: jakarta, dki jaya, Indonesia

a servant

Udah Lewat
Archives
Template by
Blogger Templates
© MY SOUL ON HIM