Selasa, 29 September 2009
Firman Allah

Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS. 13:37)

Heppy Ryanto
Heppy Ryanto
Ya Allah penguasa langit dan bumi... Tuhan yang membelah biji menjadi benih, Tuhan yang menumbuhkan tanaman dari kekeringan... Ya Allah...demi kemuliaan Nabi Muhammad SAW sang abdi-Mu yang mukhlisin, atas pengetahuan yang terlintas, demi kemulian para penyampainya, orang tua dan guru2 kami dan... demi apapun yang telah Angkau izinkan kemuliaan atas... mereka, orang orang yang telah Engkau sucikan hatinya ... hamba memohon ampuni kami semuanya... kami benar2 zalim kepada diri kami sendiri dan kepada bumi-Mu... hanya belas kasihan-Mu, hanya sebutir cinta dari samudera Cinta-Mu yang dapat menghinadri kami dari kerasnya siksa-Mu... amin ya Allah... subhanaka innaka antal aliyyul azhim.. - al faathihah

posted by abdullah @ 11.43   0 comments
Senin, 28 September 2009

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nimat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)
posted by abdullah @ 01.40   0 comments
Rabu, 23 September 2009
D0.4 8y m!ke p312mANAs4r1 W.
Ya RAbb,....
jadikan hati kami bagai anak panah yg mampu melesat mendekat kpdMu,....
yang melesat cepat dan lurus menujuMu tanpa penghalang...

tetapkan ilmu kami bagai sebuah kail yg bermanfaat memperoleh keridhoanMu,..
ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan kami di dunia maupun diakhirat...

buatlah tutur gerak kami bagai seorang penggembala yg menggiring perbuatan kami menjadi segala bentuk yg menjadi kecintaanMu...
yaitu segala perbuatan yang dilakukan demi segala yang menjadi keridhoan dan kecintaanMu...

Ya Rabb,..
Kami berikan segala yang terbaik yang kami miliki demi merebut cintaMu...
walau dengan segala ketidaksempurnaan yang kami miliki ini....
Tetapi yang pasti kami tahu....
Engkau adalah sebaik-baiknya PENILAI...
Engkau adalah sebaik-baiknya HAKIM...
Engkau adalah sebaik-bainya PEMBERI GANJARAN....
DAn sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui niat kami yg tersembunyi dibalik raga ini...

-*-

Ya Rabbana….
Semoga langkah-langkah yg dipijak di dalam qolbu kami adalah langkah tahmid dan tasbih kepadaMu…..
Semoga pendar-pendar kerinduan di hati ini hanya tertuju pdMu....

Ya Rabbana...
Jadikan hati ini layaknya jala nelayan yg siap menerima hidayahMu...
Jadikan hati ini bagai sebuah kapal yg akan selalu berlabuh padaMu...

Ya Rabbana...
Tetapkan kerinduan hati ini untuk selalu ingin mendekat pada sisi Mu
Tetapkan kecintaan hati ini karena ingin selalu mengingatMu

ya Rabbana...
Ku mohon agar kecintaanku padaMu akan menjadi 'candu' ku....
Yang akan terus-menerus meminta terpenuhinya ’rasa cinta ’ ini atas kerinduan kpdMu ya Rabb...
posted by abdullah @ 20.56   0 comments
Senin, 21 September 2009

Surat Pembuka

Written on February 9, 2006 – 9:10 pm | by S Cahyono |

Al-Fatihah adalah sebuah surat pendek di halaman paling depan Al-Qur’an, kitab suci umat Islam. Surat ini dapat menjadi gambaran terbaik atas ajaran Islam secara umum. Artikel ini juga mencoba menelaah arti pelengkap dari Ar-Rahman dan Ibadah.

Tiga Syarat Keselamatan
Menurut surat Al-Baqarah 2:62 dan diulang di Al-Maidah 5:69, ajaran Islam secara umum terpusat pada tiga bagian. Allah mengulang-ulang ayat ini karena penting dan agar semua orang tahu dan tidak lupa.
1) Percaya kepada Tuhan (atau Allah)
2) Percaya kepada Hari Pembalasan
3) Berbuat baik kepada sesama
Allah menjanjikan keselamatan atau kedamaian kepada orang-orang Nasrani, Yahudi, Shabi’in dan Mukminin yang memenuhi tiga syarat tersebut. Keselamatan ini dalam bentuk perlindungan dari rasa khawatir dan rasa sedih. Jadi dapat disimpulkan bahwa kedamaian hati ini diberikan tidak hanya di akhirat tapi juga di dunia. Bahkan Allah bisa memberikan itu saat ini juga sewaktu Anda membaca artikel ini.

Apa hubungannya dengan surat Al-Fatihah?
Penjelasan berikut memperlihatkan bahwa surat Al-Fatihah ternyata disusun mengikuti struktur Tiga Syarat Keselamatan tersebut. Surat Al-Fatihah membahas Tuhan, Pembalasan dan Ibadah.

Tuhan: Maha Kuasa dan Maha Penyayang
Surat Al-Fatihah berbentuk sebuah doa manusia kepada Penciptanya. Doa ini terdiri dari tujuh ayat. Empat ayat pertama menggambarkan Sang Pencipta di mata ciptaannya.

Ar-Rahman dapat diartikan Tuhan yang perkasa, menguasai dan mengadili. Ar-Rahim adalah Tuhan yang mengasuh, mengasihi dan mengampuni. Semua Agama mengenal Ar-Rahman maupun Ar-Rahim meskipun menggunakan istilah mereka masing-masing. Namun, dalam Islam baik Ar-Rahman, maupun Ar-Rahim adalah Tuhan yang sama, yang itu juga.

Istilah Ar-Rahman pada umumnya diartikan sebagai Maha Pengasih atau Maha Pemurah. Ini dapat dipahami karena banyak ayat dalam Al-Quran yang bisa dilihat dari banyak sudut pandang. Contohnya ayat kedua tentang Pemelihara Alam Semesta (Rabbil Alamin) dapat diartikan sebagai contoh sifat Ar-Rahim, tapi ada juga yang melihat itu sebagai contoh sifat Ar-Rahman. Namun ayat keempat mengenai Hari Pembalasan adalah contoh sifat Maha Kuasa.

Pembalasan: Nikmat dan Murka
Ayat keempat menggambarkan bahwa Allah menguasai Hari Pembalasan. Ayat terakhir menggambarkan bahwa pembalasan tersebut dapat berupa Nikmat atau Murka Allah.

Semua agama mengajarkan konsep serupa, misalnya konsep Karma bagi mereka yang suka nonton wayang kulit atau film kartun jepang. Namun ayat ketujuh menyebutkan kelompok ketiga, yaitu kesesatan. Orang yang sesat adalah mereka yang berpikir bahwa mereka mendapat Nikmat padahal sebenarnya mendapat Murka Allah.

Inilah yang membedakan seorang muslim dengan umat lainnya. Ketika seorang muslim mencintai kebenaran misalnya dengan berdakwah, ada batas-batas (hudud) Allah yang harus dihindari. Jika satu pihak melawan kesesatan pihak lain dengan kekerasan, maka keduanya menjadi sesat. Surat Al-Baqarah 2:256, menyebutkan ini sebagai tidak ada paksaan dalam beragama atau laa ikraaha fiddin.

Ibadah: Mengabdi dan Menyembah
Tiga ayat terakhir mengambarkan perbuatan yang baik yaitu ibadah. Ibadah dapat berarti mengabdi atau menyembah. Kriteria ibadah adalah jalan yang lurus atau Shirath al-Mustaqim. Surat Al-An’aam 6:151-153 membahas Sepuluh Larangan Suci (haram) yang dijuluki Allah sebagai Jalan-Ku yang Lurus atau Shirathy Mustaqiman.

Kita tangkap dari Sepuluh Larangan Suci tersebut, bahwa Allah lebih menginginkan agar kita mengabdi ketimbang sekedar menyembahnya. Ibarat kita punya majikan, tentu dia ingin kita bekerja dengan tekun melayani pelanggan atau mengolah lahan ketimbang terus-menerus memuji-muji dia. Begitu juga keinginan seorang ibu kepada anaknya. Allah mengingatkan fakta secara lebih keras melalui surat Al-Maa’uun.

Ayat kelima menunjukkan bahwa Islam bukanlah tipu daya Tuhan untuk memperbudak manusia. Islam adalah perjanjian yang menguntungkan. Ayat kelima membahas bahwa dengan mengabdi kita mendapatkan perlindungan. Perlindungan yang dimaksud adalah keselamatan seperti yang telah di bahas di awal tadi.

Belajar Islam
Islam sebenarnya sederhana dan alamiah, namun hidup ini tidak sederhana. Setiap detik dalam hidup selalu ada kejutan, tantangan dan godaan. Kitab suci Al-Quran selain sebagai petunjuk juga menjadi bagian dari ujian tersebut. Menurut surat Ali Imran 3:7, ujian dalam Al-Qur’an berupa ayat-ayat yang banyak arti (mutasyaabihaat) dan ayat-ayat yang tegas (muhkamaat).

Ayat-ayat yang muhkam biasanya mengatur hal-hal praktis semacam kriteria moral (al-furqan), ritual (rukun Islam) dan batasan-batasan (hudud). Ayat-ayat tersebut biasanya aman untuk dipelajari sendiri maupun berkelompok. Namun untuk ayat-ayat yang banyak arti kita harus membuka hati dan pikiran kita agar tidak terjerumus kepada fanatisme buta. Misalnya ayat-ayat menyatakan Nabi A lebih baik dari Nabi B adalah ayat-ayat yang berbahaya jika tidak diterima dengan hati dan pikiran yang terbuka.

Pada prakteknya, kebanyakan manusia sulit menguasai Islam tanpa berguru kepada guru atau mentor yang profesional. Nabi Musa pun diperintahkan untuk berguru. Dicurigai bahwa Bom Bali II di Jimbaran adalah akibat dari belajar Islam sendiri-sendiri dan tidak kepada guru atau mentor yang betul-betul menguasai ajaran Islam.

Kalau mau digampangkan, belajar Islam sebaiknya dimulai dengan memahami surat Al-Fatihah secara singkat meliputi konsep Tuhan, Hari Pembalasan, Perbuatan Baik dan Keuntungan ber-Islam. Setelah itu kita perlu berguru kepada guru yang kira-kira tidak melenceng dari semangat surat Al-Fatihah.

Misalnya jika sang mentor mengajarkan Islam secara hitam-putih atau cuma dua golongan, maka kita perlu berhati-hati agar tidak jatuh ke golongan ketiga sebagaimana telah dibahas dalam artikel ini. Perhatikan surat Al-Maa’uun mengenai seorang mushalin yang tertipu mengira dirinya mendapat nikmat padahal mendapat murka Allah.

Begitu juga jika seorang guru cuma mengajarkan sisi Ar-Rahim dari Allah saja, maka kita perlu mencari guru lain yang bisa mengajarkan sisi Ar-Rahman dari Allah yang mampu melawan penindasan dan ketidak-adilan. Hanya Ar-Rahman yang bisa mengeluarkan umat Islam dari kelemahan dan kemunduran. Surat Al-Ashr menjelaskan empat strategi umat untuk keluar dari kemunduran.

Kesimpulan
Ajaran Islam dapat dikenalkan secara singkat melalui surat Al-Fatihah. Surat tersebut setidaknya membahas mengenai Tuhan, Hari Pembalasan, perbuatan baik dan keuntungan ber-Islam. Surat tersebut menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang paling murni, alamiah dan menguntungkan.

posted by abdullah @ 06.48   0 comments
Minggu, 20 September 2009

Fatimah binti Muhammad SAW
(Puteri-puteri Teladan dalam Islam)








Sumber: "Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW" (terjemahan dari buku "An-Nisaa' Haula Ar-Rasuul") yang disusun oleh Muhammad Ibrahim Salim. Disalin oleh: Hanies Ambarsari.



Fatimah adalah "ibu dari ayahnya." Dia adalah puteri yang mulia dari dua pihak, yaitu puteri pemimpin para makhluq Rasulullah
SAW, Abil Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim.
Dia juga digelari Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada
ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlaq, adab,
hasab dan nasab.

Fatimah lebih muda dari Zainab, isteri Abil Ash bin Rabi' dan
Ruqayyah, isteri Utsman bin Affan. Juga dia lebih muda dari Ummu Kul-
tsum. Dia adalah anak yang paling dicintai Nabi SAW sehingga beliau
bersabda :"Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga
menyusahkan aku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku." [Ibnul
Abdil Barr dalam "Al-Istii'aab"]

Sesungguhnya dia adalah pemimpin wanita dunia dan penghuni
syurga yang paling utama, puteri kekasih Robbil'aalamiin, dan ibu dari
Al-Hasan dan Al-Husein. Az-Zubair bin Bukar berkata :"Keturunan Zainab
telah tiada dan telah sah riwayat, bahwa Rasulullah SAW menyelimuti
Fatimah dan suaminya serta kedua puteranya dengan pakaian seraya ber-
kata :"Ya, Allah, mereka ini adalah ahli baitku. Maka hilangkanlah
dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya." ["Siyar
A'laamin Nubala', juz 2, halaman 88]

Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :"Datang Fatimah kepada
Nabi SAW meminta pelayan kepadanya. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya :
"Ucapkanlah :"Wahai Allah, Tuhan pemilik bumi dan Arsy yang agung.
Wahai, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu yang menurunkan Taurat,
Injil dan Furqan, yang membelah biji dan benih. Aku berlindung kepada-
Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai nyawanya. Engkau-
lah awal dan tiada sesuatu sebelum-Mu. Engkau-lah yang akhir dan tiada
sesuatu di atas-Mu. Engkau-lah yang batin dan tiada sesuatu di bawah-
Mu. Lunaskanlah utangku dan cukupkan aku dari kekurangan." (HR. Tirmidzi)

Inilah Fatimah binti Muhammad SAW yang melayani diri sendiri
dan menanggung berbagai beban rumahnya. Thabrani menceritakan, bahwa
ketika kaum Musyrikin telah meninggalkan medan perang Uhud, wanita-
wanita sahabah keluar untuk memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin.
Di antara mereka yang keluar terdapat Fatimah. Ketika bertemu Nabi SAW,
Fatimah memeluk dan mencuci luka-lukanydengan air, sehingga darah
semakin banyak yangk keluar. Tatkala Fatimah melihat hal itu, dia
mengambil sepotong tikar, lalu membakar dan membubuhkannya pada luka
itu sehingga melekat dan darahnya berhenti keluar." (HR. Syaikha dan
Tirmidzi) Dalam kancah pertarungan yang dialami ut kita, tampaklah
peranan puteri Muslim supaya menjadi teladan yang baik bagi pemudi
Muslim masa kini.

Pemimpin wanita penghuni Syurga Fatimah Az-Zahra', puteri Nabi
SAW, di tengah-tengah pertempuran tidak berada dalam sebuah panggung
yang besar, tetapi bekerja di antara tikaman-tikaman tombak dan pukulan-
pukulan pedang serta hujan anak panah yang menimpa kaum Muslimin untuk
menyampaikan makanan, obat dan air bagi para prajurit. Inilah gambaran
lain dari pute sebaik-baik makhluk yang kami persembahkan kepadada para
pengantin masa kini yang membebani para suami dengan tugas yang tidak
dapat dipenuhi.

Ali r.a. berkata :"Aku menikahi Fatimah, sementara kami tidak
mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami tiduri di waktu
malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil air di siang hari.
Kami tidak mempunyai pembantu selain unta itu." Ketika Rasulullah SAW
menikahkannya (Fatimah), belmengirimkannya (unta itu) bersama satu
lembar kain dan bantal kulit berisi ijuk dan dua alat penggiling gandum,
sebuah timba dan dua kendi. Fatimah menggunakan alat penggiling gandum
itu hingga melecetkan tangannya dan memikul qirbah (tempat air dari kulit)
berisi air hingga berbekas pada dadanya. Dia menyapu rumah hingga berdebu
bajunya dan menyalakan api di bawah panci hingga mengotorinya juga. Inilah
dia, Az-Zahra', ibu kedua cucu Rasulullah SAW :Al-Hasan dan Al-Husein.

Fatimah selalu berada di sampingnya, maka tidaklah mengherankan
bila dia meninggalkan bekas yang paling indah di dalam hatinya yang
penyayang. Dunia selalu mengingat Fatimah, "ibu ayahnya, Muhammad", Al-
Batuul (yang mencurahkan perhatiannya pada ibadah), Az-Zahra' (yang ce-
merlang), Ath-Thahirah (yang suci), yang taat beribadah dan menjauhi
keduniaan. Setiap merasa lapar, dia selalu sujud, dan setiap merasa payah,
dia selalu berdzikir. Imam Muslim menceritakan kepada kita tentang keuta-
maan-keutamaannya dan meriwayatkan dari Aisyah' r.a. dia berkata :

"Pernah isteri-isteri Nabi SAW berkumpul di tempat Nabi SAW. Lalu
datang Fatimah r.a. sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan jalan
Rasulullah SAW. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau menyambutnya seraya
berkata :"Selamat datang, puteriku." Kemudian beliau mendudukkannya di
sebelah kanan atau kirinya. Lalu dia berbisik kepadanya. Maka Fatimah
menangis dengan suara keras. Ketika melihat kesedihannya, Nabi SAW ber-
bisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum. Setelah itu
aku berkata kepada Fatimah :Rasulullah SAW telah berbisik kepadamu secara
khusus di antara isteri-isterinya, kemudian engkau menangis!" Ketika Nabi
SAW pergi, aku bertanya kepadanya :"Apa yang dikatakan Rasulullah SAW
kepadamu ?" Fatimah menjawab :"Aku tidak akan menyiarkan rahasia Rasul
Allah SAW." Aisyah berkata :"Ketika Rasulullah SAW wafat, aku berkata
kepadanya :"Aku mohon kepadamu demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah
kepadaku apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu itu ?" Fatimah pun
menjawab :"Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali
kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa
bacaannya terhadap Al Qur'an sekali dalam setahun, dan sekarang dia
memerika bacaannya dua kali. Maka, kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah
kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahului-
mu." Fatimah berkata :"Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau
lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku,
dan berkata :"Wahai, Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin
wanita-wanita kaum Mu'min atau ummat ini ?" Fatimah berkata :"Maka aku
pun tertawa seperti yang engkau lihat."

Inilah dia, Fatimah Az-Zahra'. Dia hidup dalam kesulitan, tetapi
mulia dan terhormat. Dia telah menggiling gandum dengan alat penggiling
hingg berbekas pada tangannya. Dia mengangkut air dengan qirbah hingga
berbekas pada dadanya. Dan dia menyapu rumahnya hingg berdebu bajunya.
Ali r.a. telah membantunya dengan melakukan pekerjaan di luar. Dia ber-
kata kepada ibunya, Fatimah binti Asad bin Hasyim :"Bantulah pekerjaan
puteri Rasulullah SAW di luar dan mengambil air, sedangkan dia akan men-
cupimu bekerja di dalam rumah :yaitu membuat adonan tepung, membuat roti
dan menggiling gandum."

Tatkala suaminya, Ali, mengetahui banyak hamba sahaya telah
datang kepada Nabi SAW, Ali berkata kepada Fatimah, "Alangkah baiknya
bila engkau pergi kepada ayahmu dan meminta pelayan darinya." Kemudian
Fatimah datang kepada Nabi SAW. Maka beliau bertanya kepadanya :"Apa
sebabnya engkau datang, wahai anakku ?" Fatimah menjawab :"Aku datang
untuk memberi salam kepadamu." Fatimah merasa malu untuk meminta kepadanya,
lalu pulang. Keesokan harinya, Nabi SAW datang kepadanya, lalu bertanya :
"Apakah keperluanmu ?" Fatimah diam.

Ali r.a. lalu berkata :"Aku akan menceritakannya kepada Anda,
wahai Rasululllah. Fatimah menggiling gandum dengan alat penggiling
hingga melecetkan tangannya dan mengangkut qirbah berisi air hingga
berbekas di dadanya. Ketika hamba sahaya datang kepada Anda, aku me-
nyuruhnya agar menemui dan meminta pelayan dari Anda, yang bisa mem-
bantunya guna meringankan bebannya."

Kemudian Nabi SAW bersabda :"Demi Allah, aku tidak akan memberikan
pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan perut penghuni Shuffah
merasakan kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah mereka, tetapi aku
jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk nafkah mereka."

Maka kedua orang itu pulang. Kemudian Nabi SAW datang kepada mereka
ketika keduanya telah memasuki selimutnya. Apabila keduanya menutupi kepala,
tampak kaki-kaki mereka, dan apabila menuti kaki, tampak kepala-kepala
mereka. Kemudian mereka berdiri. Nabi SAW bersabda :"Tetaplah di tempat
tidur kalian. Maukah kuberitahukan kepada kalian yang lebih baik daripada
apa yang kalian minta dariku ?" Keduanya menjawab :"Iya." Nabi SAW bersabda:
"Kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, yaitu hendaklah kalian mengucap-
kan : Subhanallah setiap selesai shalat 10 kali, Alhamdulillaah 10 kali
dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, ucapkan Subhanallah
33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan takbir (Allahu akbar) 33 kali."

Dalam mendidik kedua anaknya, Fatimah memberi contoh : Adalah
Fatimah menimang-nimang anaknya, Al-Husein seraya melagukan :"Anakku
ini mirip Nabi, tidak mirip dengan Ali."

Dia memberikan contoh kepada kita saat ayahandanya wafat. Ketika
ayahnya menjelang wafat dan sakitnya bertambah berat, Fatimah berkata :
"Aduh, susahnya Ayah !" Nabi SAW menjawab :"Tiada kesusahan atas Ayahanda
sesudah hari ini." Tatkala ayahandanya wafat, Fatimah berkata :"Wahai,
Ayah, dia telah memenuhi panggilang Tuhannya. Wahai, Ayah, di surfa Firdaus
tempat tinggalnya. Wahai, Ayah, kepada Jibril kami sampaikan beritanya."

Fatimah telah meriwayatkan 18 hadits dari Nabi SAW. Di dalam
Shahihain diriwayatkan satu hadits darinya yang disepakati oleh Bukhari
dan Muslim dalam riwayat Aisyah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Tirmi-
dzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud. Ibnul Jauzi berkata :"Kami tidak mengetahui
seorang pun di antara puteri-puteri Rasulullah SAW yang lebih banyak me-
riwayatkan darinya selain Fatimah."

Fatimah pernah mengeluh kepada Asma' binti Umais tentang tubuh
yang kurus. Dia berkata :"Dapatkah engkau menutupi aku dengan sesuatu ?"
Asma' menjawab :"Aku melihat orang Habasyah membuat usungan untuk wanita
dan mengikatkan keranda pada kaki-kaki usungan." Maka Fatimah menyuruh
membuatkan keranda untuknya sebelum dia wafat. Fatimah melihat keranda
itu, maka dia berkata :"Kalian telah menutupi aku, semoga Allah menutupi
aurat kalian." [Imam Adz-Dzhabi telah meriwayatkan dalam "Siyar A'laamin
Nubala'. Semacam itu juga dari Qutaibah bin Said ...dari Ummi Ja'far]

Ibnu Abdil Barr berkata :"Fatimah adalah orang pertama yang
dimasukkan ke keranda pada masa Islam." Dia dimandikan oleh Ali dan
Asma', sedang Asma' tidak mengizinkan seorang pun masuk. Ali r.a.
berdiri di kuburnya dan berkata :

Setiap dua teman bertemu tentu
akan berpisah
dan semua yang di luar kematian
adalah sedikit kehilangan satu demi satu
adalah bukti bahwa teman itu
tidak kekal

Semoga Allah SWT meridhoinya. Dia telah memenuhi pendengaran,
mata dan hati. Dia adalah 'ibu dari ayahnya', orang yang paling erat
hubungannya dengan Nabi SAW dan paling menyayanginya. Ketika Nabi SAW
terluka dalam Perang Uhud, dia keluar bersama wanita-wanita dari Madinah
menyambutnya agar hatinya tenang. Ketika melihat luka-lukanya, Fatimah
langsung memeluknya. Dia mengusap darah darinya, kemudian mengambil air
dan membasuh mukanya.

Betapa indah situasi di mana hati Muhammad SAW berdenyut
menunjukkan cinta dan sayang kepada puterinya itu. Seakan-akan
kulihat Az-Zahra' a.s. berlinang air mata dan berdenyut hatinya
dengan cinta dan kasih sayang. Selanjutnya, inilah dia, Az-Zahra',
puteri Nabi SAW, puteri sang pemimpin. Dia memberi contoh ketika
keluar bersama 14 orang wanita, di antara mereka terdapat Ummu
Sulaim binti Milhan dan Aisyah Ummul Mu'minin r.a. dan mengangkut
air dalam sebuah qirbah dan bekal di atas punggungnya untuk memberi
makan kaum Mu'minin yang sedang berperang menegakkan agama
Allah SWT.


Semoga kita semua, kaum Muslimah, bisa meneladani para wanita mulia
tersebut. Amiin yaa Robbal'aalamiin.


Wallahu a'lam bishowab.
posted by abdullah @ 18.48   0 comments


Karena Cinta

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Masjid Yuba City, 1-11-2003


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

[Massa berteriak saat menyambut Syekh, “Allahu Akbar! Ya Rasulallah SAW! ]

As-salaam `alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh,

Saya merasa mendapat kehormatan berada di sini menyampaikan presentasi yang mungkin bukan sesuatu yang baru, namun setidaknya dapat menyegarkan ingatan kita. Senang rasanya melihat seorang pendeta Yahudi (rabbi) hadir di sini dan begitu pula dengan masyarakat dari berbagai agama. Kita selalu mencoba membangun jembatan agar dunia menjadi penuh dengan kedamaian. Segala sesuatu di dunia ini dibangun berdasarkan cinta. Jika tidak ada cinta, tidak ada apa pun, karena segala yang hidup terjadi karena cinta. Saat manusia mencintai satu sama lain, ada buah dari cinta mereka.

Kebanyakan kalian di sini adalah para petani. Kadang-kadang ketika saya membeli sebuah pohon, mereka meminta saya untuk membeli 2. Kata mereka, “Anda butuh jantan dan betina, jika mereka tidak berdekatan, mereka tidak akan menghasilkan buah.” Begitu pun dengan hewan.

Jika cinta menjadi poin utama di dunia ini, segala sesuatu pasti akan seimbang. Segala sesuatu di dunia ini berasal dari cinta. Untuk mencapai hidup yang seimbang, kalian harus memiliki cinta.
Yahudi mencintai Musa AS, mereka mengikuti ajarannya. Orang Kristen mencintai Yesus AS. Muslim mencintai Muhammad SAW, dan mereka mengikutinya. Inilah keimanan kita. Karena cinta, kita membangun komunitas-komunitas. Dengan cinta, kita membangun diri dan kehidupan abadi kita kelak.

Tanpa cinta, kita akan menjadi bingung. Kita ciptakan peperangan, pertengkaran dan kriminalitas. Untuk apa kita hidup selama 60-70 tahun lalu meninggal? Allah SWT tidak mengirim kita ke dunia untuk berkelahi. Kita juga tidak membawa apa pun bersama kita kelak. Kalian diletakkan di lubang kubur lalu orang menutupnya. Apa yang tertinggal setelah itu? Jika mereka menyayangi kalian semasa kalian hidup, maka mereka akan mendoakan. Jika mereka tidak suka, maka mereka akan mencaci kalian. Hanya itu. Tidak ada jalan lain.

Hanya ada 2 cara: jika kalian sayang pada mereka yang baik, kalian akan sukses. Jika kalian cinta pada cara-cara Iblis, kalian akan kalah. Para penganut agama ada yang baik dan ada yang buruk. Kita berharap mereka yang buruk suatu saat akan menuju kebaikan.

Allah SWT berfirman, “Ya Ayyuhal-ladziina aamanuu Athi`ullaha wa athi`ur-rasuula wa ulil-amri minkum” – “Hai orang-orang yang beriman, patuhi Allah SWT, patuhilah Rasul dan mereka yang mempunyai wewenang di antara kalian.” [4:59].

Sebagai contoh, bila kalian tidak patuh pada polisi lalu lintas, apa jadinya kalau kalian parkir di tempat yang dilarang, maka kalian harus membayar tilang. Itulah yang dimaksud Allah SWT, “Patuhi polisi, patuhi hukum negaramu, patuhi ajaran nabi, dan patuhi Aku.”

Dia tidak mengatakan, “Abaikan semua orang.” Karena bila di dunia ini kita mengabaikan hukum, kita akan masuk penjara. Jadi mengapa kita mengabaikan Allah SWT dan nabi-Nya?
Man yuthi`i ar-Rasul faqad atha` Allaha" – Barang siapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah SWT. [4.80]

Dan Nabi SAW mengatakan tentang tingkat kedua dari Islam, yaitu: ”An tu'minu billahi wa malaa'ikatihi wa kutubihi wa rasulihi wa bil yawm il-akhiri wa bil-qadri khayrihi was syarrihi min Allah.” Untuk beriman pada Tuhan, malaikat-malikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, hari kiamat dan takdir-Nya.

Karena berhubungan dengan surgawi, mereka pun disusun dalam urutan: pertama percaya pada Tuhan, lalu malaikat-malaikat-Nya, lalu percaya pada kitab suci-Nya, dan seterusnya.

Lihatlah tiap kata-kata -- percaya pada malaikat-malaikat-Nya disebut sebelum utusan-utusan-Nya. Dia menjaga urutan, disiplin dan prinsip. Setelah malaikat-malaikat, Dia katakan kitab-kitab-Nya (bukan satu kitab saja), artinya kitab suci Taurat, Injil, Zabur dan kitab suci lain yang datang sebelumnya. Dia jaga semuanya. Maka kalian tidak boleh melompati urutan. Islam mengajarkan disiplin dengan cara yang indah.

Mereka yang mengatakan bahwa tidak ada hierarki dalam Islam, itu karena mereka ingin langsung melompat menjadi bos, pimpinan. Mereka mengikuti ideologi yang berkembang di sekitar kita, sekte baru, agama baru yang dibuat oleh kaum Wahhabi.

Islam tidak mengajarkan kita agar menabrakkan pesawat kita pada gedung dan membunuh orang-orang. Itu bukan Islam, bahkan bukan manusia. Lupakan tentang agama, karena itu tidak manusiawi.

Mereka merusak citra muslim dan Islam. Kini kita harus membela Islam! Mengapa saya harus membela Islam? Karena Islam membela saya. Sayyidina Muhammad SAW membela saya. Saya tidak membela agamanya dan sifat-sifatnya. Saat ini banyak orang-orang datang dan menyerang Nabi SAW, lalu beberapa muslim membela beliau. Beliau tidak membutuhkan pembela. Allah SWT yang akan membela beliau! Wallahu ya`shimuka min an-naas... Allah SWT memelihara kamu dari (gangguan) manusia… [5:67].

Saat Nabi SAW membawa pesan agama Islam, saudara-saudara terdekatnya melawan beliau. Pamannya tidak percaya pada beliau. Namun beliau tetap diam. Selama 13 tahun di Mekkah, Nabi SAW tidak pernah mengeluarkan pedangnya.

Kata orang, Islam agama yang kasar, padahal Nabi SAW tidak pernah mengeluarkan pedang, kecuali untuk membela diri. Nabi SAW bukan seorang prajurit. Beliau tidak pernah berkelahi. Saya membaca brosur hari ini yang mengatakan bahwa Nabi SAW adalah seorang prajurit. Salah! Itu berasal dari mental kaum Wahhabi, Allah SWT cukup bagi beliau, Allah SWT mendukung beliau.

Mereka mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Akan kami berikan apa pun yang kamu minta. Berhentilah menyebarkan Islam.” Nabi SAW menjawab, “Walaupun kalian letakkan bulan di tangan kiriku dan matahari di tangan kananku, aku tidak akan berhenti. Aku tidak mengejar posisi, uang atau ketenaran. Aku mengejar firman.”

Ada banyak tempat di atas bumi ini. Pergilah ke samudra sana. Jangan berkelahi di atas daratan. Pergi ke lautan dan peranglah sesuka kalian sampai asin! Jangan menghancurkan bumi dan merusak air tanah.

Saya akan bercerita tentang salah satu sahabat Nabi SAW, Salman al-Farsi RA. Ayahnya adalah penganut Zoroaster (penyembah api-penerj.). Beliau tinggal di Persia - sekarang disebut Iran. Usianya panjang, mungkin 140 tahun, namun ada yang mengatakan lebih. Saat itu beliau sedang mencari kebenaran. Beliau dibesarkan sesuai ajaran Zoroaster. Namun saat orang tuanya meninggal, beliau mulai menjelajah dari satu agama ke agama yang lain.

Bukan berarti agama lain salah, namun beliau menginginkan sesuatu. Jika seseorang mencintai sesuatu, hatinya akan selalu terhubung dengannya. Salman RA bercerita tentang hal ini (pada sebuah hadits). Nabi SAW meminta Salman RA untuk menceritakan hal ini pada para sahabat.
Beliau menuturkan,

Aku sadar, bahwa hatiku belum merasakan kepuasan, maka aku pun mencari sesuatu yang lebih. Pertama aku menemui seorang pendeta Yahudi. Kukatakan padanya, “Aku sedang mencari kebenaran.” Jawab sang rabbi, “Anakku, engkau masih muda. Aku dapat mengajarimu.” Aku ingin belajar pada dia, karena kulihat dia sangat alim dan terpelajar. Sang rabbi menerimaku dengan syarat bahwa aku harus menolong segala kebutuhannya, karena dia sudah lanjut usia. Maka akupun hidup bersama orang itu, melayani dia dan dia mengajari aku. Aku bekerja untuknya.

Saat dia akan meninggal, aku bertanya, “Ke mana aku harus pergi? Apa yang harus kulakukan?“ Jawabnya, “Tidak ada lagi kebenaran di negara ini. Akan kukirim kau ke Irak, ada seorang temanku di sana.”

Kemudian aku menempuh jarak yang jauh menuju Irak, butuh waktu berbulan-bulan, sampai aku menemukan orang yang dimaksud guruku. Dia menerima permintaanku untuk melayaninya. Dia mengajariku banyak hal. Aku mencintainya seperti aku mencintai ayah dan ibuku. Dia berhati murni dan sangat baik.

Tiba saat dia akan meninggal dunia, aku tanyakan padanya, “Apa yang harus kulakukan?” Jawab rabbi, “Pergilah ke Syam. Ada seorang beriman di sana yang akan mengajarimu.” Aku pun pergi menemuinya, belajar. Sampai waktunya dia meninggal dunia, aku tanyakan padanya, “Apa yang harus kulakukan?” Jawabnya, “Aku tidak tahu guru-guru lain. Namun menurut kitab-kitab yang aku miliki, disebutkan tentang seorang Nabi yang akan datang. Beliau akan hidup di antara dua gunung hitam dan pepohonan kurma. Pergilah, engkau akan bertemu beliau di sana.”

Sekarang aku telah melewatkan 50-60 tahun melayani dari satu guru ke guru lainnya, namun ke mana lagi aku harus pergi? Guru itu menyebutkan tanah Arab, namun Arab yang mana?

Aku menunggu dan terus menunggu. Guruku telah meninggal dan aku memelihara kawanan domba dan unta. Aku sudah punya sebuah rumah dan modal. Saat itu ada sebuah karavan yang akan pergi menuju tanah Arab, aku memohon agar bisa ikut mereka. Mereka berkata, “Kami minta biaya.” Jawabku, “Ambil semua unta, domba dan kambingku.” Mereka menerimanya. Namun di tengah jalan mereka berubah menjadi kawanan Iblis. Mereka menjualku pada seseorang sebagai budak. Aku melayani tuanku dengan sabar sebagai seorang budak.

Saat seseorang sedang jatuh cinta, dia melakukan segalanya dengan tulus. Itulah yang rabbi dan semua keyakinan ajarkan, yaitu untuk melayani Tuhannya. Salman RA sedang menuju jalan kebenaran, maka hanya kebaikan yang ada di hatinya. Dia ingin menjadi seseorang yang berguna bagi komunitasnya. Itulah yang dia yakini. Dia terima takdirnya sebagai seorang budak dan setia pada mereka yang dia layani.

Salman RA mengatakan, “Apa pun yang disuruh majikan, aku patuhi. Aku tahu, itulah takdirku. Aku bekerja padanya selama beberapa tahun, namun hatiku tetap membara untuk pergi ke tanah Arab untuk bertemu dengan Nabi yang disebutkan oleh guruku.

Setelah beberapa tahun bekerja, suatu hari ada sebuah karavan yang berkunjung. Pemiliknya adalah teman majikanku, dia sangat menyukai aku. Dimintanya aku untuk menjadi budaknya dengan cara membeli dari majikanku. Setelah disetujui, akhirnya aku berganti majikan. Kami bepergian berbulan-bulan sampai akhirnya tiba di sebuah kota kecil di mana kulihat pegunungan hitam dan pohon-pohon kurma.

Aku berkata pada diri sendiri, “Akhirnya kutemui sesuatu yang membuatku puas.” Itulah hal yang memuaskan dia. Jika kalian puas akan sesuatu, maka terserah kalian untuk menerimanya atau tidak.

Allah SWT berfirman, “Tidak ada paksaan dalam agama.” [2:256] Kalian tidak boleh memaksa orang dalam hal apa pun. Jika dia ingin menjadi Yahudi, maka dia akan menjadi seorang Yahudi. Jika ingin menjadi Kristen, dia pun akan menjadi Kristen. Bukan kewajiban kalian untuk menggedor pintunya dan menyuruh orang menjadi muslim. Kalian bukan seorang utusan. Jika seseorang datang dan bertanya pada kalian, maka kalian jelaskan. Jika ada yang tertarik dengan Islam, kalian boleh berdiskusi dengan mereka.

Maka Sayyidina Salman al-Farsi RA sampai pada kota yang dimaksud. “Aku mulai melayani majikanku dengan mengumpulkan kurma-kurma untuknya.” Aku menunggu Nabi setiap hari dengan penuh keresahan. Pekerjaanku adalah memetik kurma untuk tuanku, namun sebagian adalah milikku sendiri.

Suatu hari kudengar seorang anak kecil menyanyikan lagu, “Tala`al-badru `alayna.” Aku sedang berada di Quba (sekitar 12 km dari Madinah). Kudengar Sang Nabi SAW pindah ke sini dari Mekkah, maka turunlah aku sambil membawa beberapa kurma-kurma milikku sendiri.

Guru terakhirku mengatakan akan ciri-ciri Nabi SAW, bahwa beliau berkenan memakan sesuatu dari hadiah, tetapi tidak berkenan memakan dari sedekah. Dan dia mempunyai sebuah tanda di lehernya, Khatm an-nubuwwah.

Aku pergi menuju masjid Quba. Semua sahabat sedang duduk mengelilingi Nabi SAW. Kutawarkan kurma pada beliau, “Ya Muhammad SAW! Ini kurma dariku. Aku tahu bahwa Anda dan para sahabat amat lelah. Terimalah kurma-kurma ini sebagai sedekah dariku.”

Nabi SAW mengambil kurma-kurma itu dan mengatakan, “Semoga Allah SWT membalas kebaikanmu.” Dan beliau membagikan kurma-kurma itu pada sahabat-sahabat beliau. Aku hanya memperhatikan apa yang beliau lakukan. Beliau sama sekali tidak menyentuh kurma-kurma itu.

Dia (Salman RA) adalah seorang Zoroaster yang datang ke Madinah dari Syam lewat Mosul, asli dari Persia. Dia ingin membuktikan sendiri tanda-tanda kenabian itu. Setelah satu minggu, aku kembali lagi menemui Nabi SAW sambil membawa kurma. “Ini sebagai hadiah dariku, Ya Rasulallah SAW.” Nabi SAW mengambil sebutir kurma, menciumnya dan memakannya lalu dibagikan kurma-kurma itu pada sahabat-sahabatnya.

Aku menunggu saat untuk melihat Khatm an-Nubuwwah. Aku sudah berusaha mengintip, namun malu rasanya meminta Nabi SAW untuk memperlihatkan tanda itu. Suatu saat ketika Nabi SAW menggali sebuah lubang untuk mengubur jasad seseorang, aku mengikutinya untuk melihat Khatm an-Nubuwwah milik Nabi SAW.

Lihat betapa “Nabi SAW khawatir akan keselamatan umatnya” [9:128], beliau menggali sendiri kuburan salah satu sahabatnya dan tidakkah kalian mengira bahwa beliau akan menyelamatkan kita agar masuk surga?

Saat Nabi SAW menggali, Salman RA mulai mengamati punggung beliau. Tiba-tiba Nabi SAW berkata, “Ini lihatlah! Inikah yang engkau cari?” Sambil menyibakkan sedikit jubah beliau sehingga Khatm an-Nubuwwah itu terlihat.

Di kemudian hari berkaitan dengan Salman al-Farsi RA, kaum Anshaar dan Muhajirin berdebat. Kaum Anshaar mengklaim, “Dia (Salman RA) berasal dari kaum kami, dia dari Madinah.” Kaum Muhajirin pun mengklaim, “Tidak, dia pindah dari Syam ke Persia.” Nabi SAW pun menghentikan mereka, dan berkata, “Tidak! Dia bukan berasal dari kaum kalian. Dia adalah dariku, Ahl al-Bayt, Keluarga dari Rumah (Nabi SAW).

Hadits di atas mempunyai makna yang dalam, bahwa seorang asing yang tidak ada hubungan darah atau perkawinan dapat menjadi anggota Ahl al-Bayt, jika mempunyai cinta yang luar biasa terhadap Nabi SAW. Mereka yang membaca na'at dan menulis puisi pujian pada Nabi SAW insya-Allah juga termasuk keluarga dari Nabi SAW.

Inilah Islam. Sesuatu yang harus kalian rasakan, walaupun terasa asam atau manis. Ketika memasukinya, kalian akan bisa mengenalnya. Karena alasan tersebut banyak masalah dalam komunitas kita. Karena orang-orang yang tak berpengetahuan (belajar walaupun sedikit) datang dan membuat kegaduhan seperti sebuah kotak korek api yang berisi tiga atau empat di dalamnya. Berbeda dengan kotak korek yang isinya penuh; kocoklah, pasti tidak akan terdengar suara.

Artinya penganut yang tulus, yang tidak mengincar kursi direktur akan hidup puas dengan apa yang Allah SWT berikan. Mereka hidup 60-70 tahunan. Mereka bisa menjadi dokter, insinyur atau orang-orang miskin, namun mereka puas. Tetapi mereka yang seperti “korek api” akan membuat kegaduhan sehingga akan membingungkan masyarakat.

Sabda Nabi SAW, “la farqa bayna `arabiyyan wa `ajamiyyan illa bi-taqwa.” – “Tidak ada perbedaan antara orang Arab dan bukan Arab kecuali dalam hal ketaqwaan pada Tuhan.” Jika dia muslim, hubungan kita bergantung pada ketaqwaannya. "Astaghfirullah al-`azhiim..."


Wa min Allah at tawfiq
posted by abdullah @ 16.22   0 comments

Perantaraan Wali

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Kita harus gembira. Tak perlu bersedih. Allah SWT telah menciptakan kalian. Jika Dia tidak menciptakan kalian, kalian tidak akan pernah ada. Berusahalah untuk selalu bergembira dan puas terhadap kondisi yang telah digariskan Allah SWT kepada kalian. Jangan pernah berkeberatan, apa pun yang kalian jumpai dalam hidup ini. Jika kalian melihatnya dengan perspektif yang baik, kalian akan merasakan kebaikannya. Sebaliknya, jika kalian melihatnya dengan perspektif yang buruk, kalian juga akan mendapatkan keburukan dalam diri kalian.

Hari ini adalah hari kedua di bulan Rajab. Rasulullah SAW bersabda, “Rajab adalah bulan Allah SWT, Syakban bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku.” Beliau mengatakan, “Syakban adalah bulanku,” berarti Allah SWT telah memberinya, salahiyya, kontrol terhadap seluruh umat manusia di bulan itu. Tidak ada malaikat yang dapat menulis sesuatu tentang kalian, tanpa bertanya kepada Rasulullah SAW. Sebagaimana Allah SWT mencintai umat manusia dan menciptakan mereka dengan sempurna, begitu juga Rasulullah SAW diciptakan oleh Allah SWT dan diberikan kekuasaan itu terhadap seluruh umat ini untuk menjaga mereka agar tetap murni dan bersih. Oleh sebab itu Rasulullah SAW memerintahkan seluruh wali di seluruh dunia selama 24 jam untuk membantu menolongnya dalam membersihkan dan menyeimbangkan kebaikan dan keburukan dalam diri setiap orang.

Rahasia sufi bukanlah rahasia. Mereka hanya tampak rahasia bagi orang yang belum pernah mendengar sebelumnya. Kepada yang lainnya mereka sangat familiar sebab mereka selalu bersama Rasulullah SAW, dan selalu mendapat pengetahuan tingkat tinggi dari hatinya.

Untuk setiap huruf dalam al-Qur’an, Allah SWT telah memberi Rasulullah SAW 12.000 Samudra Pengetahuan. Jangan berpikir bahwa, “alif” yang merupakan salah satu huruf dalam al-Qur’an hanya sebagai huruf tunggal, jika diulang maka itu dianggap sebagai huruf baru. Oleh sebab itu, setiap munculnya satu huruf alfabet dalam al-Qur’an terdapat 12.000 Samudra Pengetahuan bersamanya. Semua yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW kepada kita, yaitu berupa pengetahuan yang mengikuti perintah Allah SWT bagaikan tetesan dalam samudra. Allah SWT menjaga apa yang tertinggal agar nanti hati manusia dapat menemukannya, dengan tubuh fisik ini kita tidak dapat mengetahuinya. Itulah sebabnya mengapa Sayyidina Abu Hurayra RA tidak dapat menerangkan semua yang diberikan oleh Rasulullah SAW ke dalam hatinya. Mengapa mereka akan memotong lehernya? Karena mereka cemburu.

Cendikiawan Muslim, Kristen, Yahudi—cemburu terhadap surga. Mereka tidak ingin seluruh umat manusia memasukinya, hanya orang-orang dari golongan mereka saja yang berhak memasukinya. Allah SWT berkata, tidak ada diskriminasi, seluruh umat manusia adalah hamba-Nya dan dengan demikian sama derajatnya—Muslim, Hindu, Yahudi, Kristen dan semua orang. Kita sebagai pengikut Rasulullah SAW setuju dengan sabdanya, bahwa seluruh umat manusia adalah sama. Untuk mengilustrasikannnya, berikut ini ada sebuah kisah yang berasal dari Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS dan Syekh Nazim al-Haqqani QS. Cerita ini termasuk salah satu rahasia yang tersembunyi, yang akan dibuka pada saat datangnya Imam Mahdi AS dan Nabi ‘Isa AS, Insya Allah.

Rasulullah SAW memerintahkan Sayyidina ‘Umar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW, bahwa segera setelah beliau wafat, sebelum pemakaman dan setelah disalatkan, jubahnya harus diserahkan kepada Sayyidina Uwais al-Qarani RA sebab beliau harus memegang dan menjaga jubah tersebut. Rasulullah SAW juga berkata kepada mereka untuk menyerahkan diri mereka sebagai amanat darinya. Mereka berdua keheranan, bagaimana mereka sebagai sahabat terbaik Rasulullah SAW menyerahkan diri mereka kepada Uwais RA, dan siapa pula Uwais RA yang tidak pernah bertemu Rasulullah SAW? Mengapa dia tidak pernah muncul? Karena ibunya berkata kepadanya, “Jangan tinggalkan aku sendiri, jangan pergi.” Jadi dia tidak pergi.

Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, beliau sangat banyak mengeluarkan keringat. Jika kalian melihat orang meninggal kalian akan menyaksikan orang itu mengeluarkan banyak keringat, banyak sekali air yang keluar dari tubuhnya. Rasulullah SAW adalah yang paling banyak mengeluarkan keringat dibandingkan seluruh orang di dunia ini. Siapa saja dapat dengan mudah memeras keringat dari jubah beliau, karena jubah itu benar-benar dibasahi air. Kemudian Sayyidina ‘Umar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW melepaskan jubah Rasulullah SAW dan pergi ke kampung Uwais RA, tempat yang telah disebutkan oleh Rasulullah SAW. Di sana mereka bertanya di mana Uwais al-Qarani RA, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana Uwais al-Qarani RA berada. Sayyidina ‘Umar RA mulai jengkel—bagaimana Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk menemukan seseorang yang tidak mungkin ditemukan? Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Wahai ‘Umar RA, jangan ada keraguan di hatimu, tetapi tunggu dan bersabarlah. Mari kita lihat masalahnya dengan cermat. Jika Rasulullah SAW berkata bahwa sesuatu itu ada, pastilah dia ada dan kita akan menemukan Uwais RA, insya Allah.”

Setelah mereka bertanya lebih banyak lagi, mereka akhirnya menemukan Sayyidina Uwais al-Qarani RA sedang duduk di batu dengan tongkat di tangannya. Ibunya berada di sampingnya. Rupanya Uwais RA adalah seorang pengembala ternak. Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “’Abdullah (hamba Allah SWT)” “Siapa nama keluargamu?” “’Abdullah”—“Aku juga ‘Abdullah” kata Sayyidina ‘Umar RA yang mulai bingung. “Siapa nama aslimu?” “’Abdullah adalah nama asliku.” Lalu Sayyidina ‘Umar RA menoleh pada Sayyidina ‘Ali RA, KW dan berkata, “Kita tidak menemukan orang yang cocok. Namanya ‘Abdullah, bagaimana Rasulullah SAW berkata kepada kita bahwa kita dapat menemukan Uwais al-Qarani RA?” Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata kepada orang itu, “Wahai ‘Abdullah, Aku menerima kenyataan bahwa namamu adalah ‘Abdullah, tetapi bagaimana orang biasa memanggilmu?” Dia menjawab, “Uwais al-Qarani RA.”

Nama asli setiap orang adalah ‘Abdullah, hamba Allah SWT. Ke mana pun kalian pergi, setiap orang memiliki 7 nama dalam pelat-pelat yang terpelihara (Loh Mahfuzh), salah satunya adalah nama itu. Ini adalah nikmat Allah SWT yang telah dijamin bagi semua orang, yaitu bahwa mereka adalah hamba Allah SWT.

Sayyidina ‘Umar RA bergembira. Beberapa saat kemudian Sayyidina Uwais RA berkata, “Berikan amanat yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepadaku.” Bagaimana dia mengetahui bahwa Rasulullah SAW mengirim jubahnya untuknya, padahal dia tidak pernah bertemu dengannya? Dia mengambil jubah itu dan meletakkan di atas kepalanya. Dia lalu melihat Sayyidina ‘Umar RA dan bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang ada di jubah ini?” Sayyidina ‘Umar RA menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Sayyidina Uwais al-Qarani RA menjawab, “Jubah ini berisi rahasia seluruh umat manusia, dan Rasulullah SAW memberikan tanggung jawab itu di pundakku.”

Allah SWT telah menciptakan dunia ini dan tidak akan meninggalkannya. Dia mengirimkan utusan dan wali ke dunia ini untuk menjaga agar manusia tetap bersih dari dosa dan kesalahan. Allah SWT tidak menciptakan kita untuk dibuang ke neraka. Dia menciptakan kita untuk ditempatkan di surga. Dia menciptakan kita karena Dia mencintai kita. Jangan berpikir bahwa Dia ingin menghukum manusia. Dia menciptakan kita dengan cinta dan kasih sayang yang lengkap. Bagaimana seorang ibu mencintai anaknya? Ini adalah sebuah tetesan dalam Samudra Cinta Allah SWT. Dia akan membersihkan setiap orang dan menghukumnya sebelum dia meninggalkan dunia ini. Hal ini berjalan dengan mekanisme yang tidak kita ketahui.

Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Bagaimana rahmat bagi seluruh umat manusia berada di jubah ini?” Sayyidina Uwais RA menjawab, “Wahai ‘Umar RA pernahkah kalian melihat Rasulullah SAW?” Dia menjawab, “Pertanyaan bodoh macam apa ini? Aku selalu bersamanya setiap hari.” “Lukiskan beliau kepadaku!”, kata Sayyidina Uwais RA. Lalu Sayyidina ‘Umar RA mulai menyebutkan ciri-ciri Rasulullah SAW, mulai dari raut mukanya, warna matanya, dan seterusnya. “Semua orang juga mengenal beliau seperti itu. Engkau tidak melihat Rasulullah SAW yang sesungguhnya. Bagaimana denganmu ‘Ali RA, KW? Pernahkah engkau melihat Rasulullah SAW?” tanya Sayyidina Uwais RA. “Aku melihatnya sekali. Beliau memanggilku dan berkata, ‘Wahai ‘Ali RA, KW lihatlah diriku mulai dari perut ke atas,’ Aku melihatnya dan menemukan bahwa segalanya sampai ke lehernya berada di bawah singgasana Allah SWT, tetapi Aku tidak dapat melihat lehernya. Dan beliau menyuruhku untuk melihat dari perut ke bawah, Aku melihat dan menemukan bahwa lututnya mencapai bumi ketujuh, tetapi Aku tidak dapat melihat kakinya. Lalu beliau menyuruhku untuk melihat seluruhnya, dan Aku melihat segalanya lenyap kecuali Rasulullah SAW sendiri. Beliau adalah segalanya.”

Ini berarti jika Sayyidina ‘Ali RA, KW dapat melihat di mana leher Rasulullah SAW, dia akan seperti Rasulullah SAW. Tidak ada yang bisa menyamainya, karena itu adalah batas baginya. Sayyidina ‘Ali RA, KW juga tidak bisa melihat lututnya, dan itu telah mencapai bumi ketujuh. Tidak ada yang tahu apa dan di mana bumi ketujuh itu. Ini adalah suatu rahasia. “Beliau adalah segalanya,” merujuk pada apa yang kita bicarakan (pada pertemuan) sebelumnya, sehubungan dengan peciptaan kita oleh Allah SWT dengan 3 macam cahaya, yaitu: Cahaya Ilahi, Cahaya Rasulullah SAW, dan Cahaya Adam AS, dan berimplikasi dengan ayat al-Qur’an yang menyebutkan penghormatan Allah SWT terhadap umat manusia, [QS al-Isra’, 17: 70]. Bagaimana Allah SWT memuliakan umat manusia adalah suatu rahasia, tetapi dari rahasia itu kita dapat mengerti bahwa Allah SWT telah memuliakan kita dengan menciptakan kita dari ketiga cahaya tersebut.

Sayyidina Uwais RA berkata kepada Sayyidina ‘Ali RA, KW, “Wahai ‘Ali RA, KW, engkau melihat Rasulullah SAW sekali.” Sayyidina ‘Ali RA, KW membalas, “Pernahkah engkau melihat beliau?” “Secara fisik belum pernah, tetapi secara spiritual Aku selalu bersamanya selama 24 jam,” jawabnya. Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Lalu apa yang ada dalam jubah itu?” Beliau berkata, “Dengarkan baik-baik! Jika Aku harus duduk denganmu dan umatmu, mereka akan memotong leherku. Itulah sebabnya Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk menjauhimu dan bersembunyi. Jika Aku bersamamu dan Aku menceritakan semua rahasia ini, tak seorang pun akan menerima dan memahaminya. Tetapi suatu waktu nanti, pada saat akhir zaman seluruh rahasia ini akan dibuka, yaitu pada saat kedatangan Imam Mahdi AS dan Nabi ‘Isa AS.

Masa tersebut adalah sekarang, sebab seluruh tanda dan indikasi yang disebutkan oleh Rasulullah SAW telah ada. Seluruh wali juga menyatakan hal yang sama, bahwa di abad ini Imam Mahdi AS akan datang, begitu pula dengan Nabi ‘Isa AS. Kita semua berada di akhir dunia ini. Tidak banyak waktu tersisa. Setiap orang akan lebih suka hidup dengan cara yang mereka suka, tetapi pada kenyataannya mereka akan menjalani hidup yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Sayyidina Uwais RA berkata kepada Sayyidina ‘Umar RA, “Wahai ‘Umar RA sebelum Rasulullah SAW lahir, beliau sudah menyebut ‘umatku, umatku’ dalam rahim ibunya, ketika beliau lahir juga disebutkan ‘umatku, umatku’ dan demikian pula ketika beliau meninggal.” Rasulullah SAW memohon kepada Allah SWT, “Aku ingin menjadi perantara bagi umatku, Aku ingin menolong umat manusia, Aku ingin menjaga cahaya yang Engkau berikan kepada umat manusia tetap bersih dan murni. Aku membutuhkan kontrol dan kekuatan ini.” Ketika beliau wafat, Rasulullah SAW menolak untuk wafat kecuali dengan 1 syarat, yaitu beliau harus bisa membawa seluruh dosa dan beban seluruh umat manusia tanpa kecuali. Dengan syarat tersebut beliau memohon kepada Allah SWT, “Aku akan datang ke Hadirat-Mu, kalau tidak aku akan tetap tinggal di sini.” Allah SWT menjawab, “Terserah padamu!”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil semua makhluk hidup, setiap orang dengan namanya masing-masing, baik yang masih hidup atau sudah meninggal atau bahkan yang belum lahir sampai Hari Pembalasan. Beliau memanggil setiap roh secara perorangan. Mereka datang ke hadiratnya dan menerima beliau sebagai rasul dan mengucapkan syahadat di hadapannya, lalu bertaubat atas dosa-dosanya dan menyesali kesalahan mereka. Rasulullah SAW tidak membiarkan seorang pun pergi tanpa mendapat pengampunan dari Allah SWT. Dengan pengampunan dari Allah SWT tersebut, beliau berkeringat dan setiap tetes keringatnya melambangkan satu roh manusia.

“Jubah itu berisi tetesan keringat, atau simbol, atau roh dari umat manusia yang menjadi beban di pundak Rasulullah SAW. Beliau menyerahkannya kepadaku sebagai amanat untuk dijaga sampai waktunya nanti, di mana beliau akan ditanya tentang mereka.“ Jubah ini akan diteruskan lewat Mata Rantai Emas dari satu wali ke wali berikutnya sampai masa kita, dan selanjutkan akan diserahkan kepada Imam Mahdi AS ketika beliau muncul dan kemudian diserahkan kepada Nabi ‘Isa AS pada saat kemunculannya.

Sayyidina ‘Umar RA menangis dan berkata, “Orang bodoh macam apa aku ini yang tidak mengetahui segala macam rahasia ketika beliau masih hidup? Apakah Aku mempelajari sesuatu sekarang, setelah beliau wafat? Mengapa, wahai ‘Ali RA, KW, mengapa engkau tidak mengatakan kepadaku bahwa engkau melihat beliau dengan cara seperti itu? Aku akan mendatanginya dan menanyakan kepadanya ibadah seperti apa yang harus kulakukan agar aku bisa melihatnya seperti yang engkau lakukan.” Setelah kejadian itu Sayyidina ‘Umar RA menangis terus selama hidupnya.

Bulan Rajab ini tidak akan berakhir sampai setiap orang di dunia ini dibersihkan dari dosa-dosanya dan cahaya ditempatkan dalam hatinya. Kekuatan yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk membersihkan hati umat manusia juga diberikan kepada para awliya. Wali-wali tersebut adalah pembantu bagi Rasulullah SAW di bulan ini. Itulah sebabnya mereka sibuk di bulan Rajab. Mereka tidak berbicara kepada orang-orang. Mereka menutup pintu mereka dan duduk di ruangannya, tidak keluar, terus-menerus hanya memohon ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan umat manusia.


Mas Kawin Fatima az-Zahra AS

Putri Rasulullah SAW, Siti Fatima az-Zahra’ AS ketika dia melihat ayahnya terus-menerus menyebut ‘umatku’, dia juga ingin melakukan sesuatu untuk kepentingan umat. Lihat dan perhatikanlah bagaimana para wali berusaha untuk menyelamatkan umat manusia dan mencegah mereka agar tidak jatuh ke dalam dosa dan kesalahan. Ketika Allah SWT memerintahkan untuk menikahkan putrinya kepada seseorang, Rasulullah SAW memanggil semua sahabatnya dan berkata kepada mereka, “Allah SWT telah memerintahkan Aku malam ini untuk mengatakan bahwa barang siapa yang membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir di malam ini akan dinikahkan dengan putriku Fatima AS.”

Malam itu seluruh sahabat berkumpul di masjid dan berusaha membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir, kecuali Sayyidina ‘Ali RA, KW yang pulang ke rumah dan tidur. Ketika Bilal RA mengumandangkan azan untuk shalat Subuh, seluruhnya datang, Rasulullah SAW pun hadir di sana. Setelah selesai shalat beliau bertanya, “Siapa yang menyelesaikan al-Qur’an tadi malam sehingga Aku dapat menikahkannya dengan putriku Fatima AS?” Tidak ada yang menjawab pertanyaan beliau, sebab sangat sulit untuk menyelesaikan 30 juz hanya dalam waktu 7 atau 8 jam. Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Ya Rasulullah SAW, Aku menyelesaikannya.” Mereka melihatnya dengan iri dan berkata, “Bagaimana engkau menyelesaikannya? Engkau tidur semalaman.” Dia berkata, “Tidak, Aku menyelesaikan al-Qur’an dari awal hingga akhir.” Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina ‘Ali RA, KW, “Siapa saksimu?” Sayyidina Ali’ RA, KW menjawab, “Allah SWT saksiku, dan engkau Ya Rasulullah SAW, adalah saksiku bahwa Aku telah menyelesaikannya.”

Sekarang dengarkan baik-baik karena Mawlana Syekh Nazim QS sangat menekankan hal ini. Rasulullah SAW sebagaimana yang kalian ketahui tidak pernah memperlihatkan bahwa beliau mengetahui sesuatu terjadi di luar batas normal, sebelum Jibril AS memberitahukannya. Oleh sebab itu beliau menunggu datangnya inspirasi dari malaikat Jibril AS. Akhirnya malaikat Jibril AS datang dan berkata, “Allah SWT berkata bahwa ‘Ali RA, KW telah berkata benar dan bahwa dia telah menyelesaikan al-Qur’an dari awal hingga akhir, jadi tanyalah apa yang dilakukannya.” Rasulullah SAW berkata kepada para sahabat, “Sekarang malaikat Jibril AS telah datang kepadaku dan berkata bahwa ‘Ali RA, KW telah menyelesaikan al-Qur’an dan Allah SWT adalah saksinya. Dengan demikian Aku juga menjadi saksinya, dan Aku bertanya kepada ‘Ali RA, KW apa yang telah dibacanya malam itu?” Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Ya Rasulullah SAW, Aku membaca Asy-hadu an la ilaha illallah wa asy-hadu anna Muhammadun Rasulullah 3 kali, lalu Qul huwallahu Ahad 3 kali, lalu Qul A’udzu bi rabbil falaq 1 kali dan Qul a’udzu bi rabbin nas 1 kali, dan La ilaha illahllah 10 kali serta Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim 10 kali.”

Rasulullah SAW berkata, “Sebagaimana Allah SWT telah menjadi saksi bahwa ‘Ali RA, KW telah menyelesaikan al-Qur’an, Aku menyaksikan juga hal ini, bahwa jika kalian membaca apa yang telah kita dengar dari ‘Ali RA, KW berarti kalian telah menyelesaikan al-Qur’an.” Pada saat itu juga keluar hadis yang menyatakan bila seseorang membaca surat al-Ikhlash 3 kali, seolah-olah dia telah menyelesaikan seluruh al-Qur’an. Membaca surat ini setiap hari paling lama hanya menghabiskan waktu 2 menit, tetapi seolah-olah kalian telah membaca seluruh al-Qur’an. Orang yang tidak tahu duduk, mencoba membaca dan menyelesaikan al-Qur’an dengan bangga, tetapi mereka tidak dapat menyelesaikannya. Kalian dapat melakukan hal yang ringan ini dan menyelesaikannya, seolah-olah kalian telah menyelesaikan seluruh al-Qur’an. Apa lagi yang kalian inginkan? Demikialah, akhirnya Fatima AS menikahi ‘Ali RA, KW.

Lihatlah pernikahan Fatima AS itu, dan jangan katakan bahwa tidak ada kebebasan bagi wanita dalam Islam. Kalian akan salah. Allah SWT telah memberikan kebebasan dan persamaan kepada pria maupun wanita. Mereka dapat memberikan pendapat mereka dan memberikan kesimpulannya sendiri. Bahkan Rasulullah SAW menanyakan dulu kepada putrinya, dan berkata kepada para Sahabat, “Aku harus menanyakan putriku apakah dia menerima pernikahan ini atau tidak, itu adalah keputusannya. Orang-orang yang tidak mengerti sekarang menuduh bahwa Islam tidak memberikan hak kepada wanita. Inilah yang mereka katakan dan kita tidak harus mempercayainya. Kita percaya terhadap apa yang kita baca dan kita dengar dari Rasulullah SAW. Beliau memberikan persamaan, begitu pula dengan Allah SWT. Wanita mempunyai hak yang sama dengan pria. Inilah yang kita yakini, dan khususnya orang Amerika harus waspada dengan pemikiran bahwa Islam tidak memberikan hak kepada wanita.

Rasulullah SAW bertanya kepada Fatima AS, “Wahai Fatima AS, apakah engkau menerima ‘Ali RA, KW sebagai suamimu?” Dia berkata tidak. Seluruh sahabat menoleh pada Sayyidina ‘Ali RA, KW, lalu Fatima AS, dan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW merasakan mukanya memerah, mengapa Fatima AS berkata tidak? Apakah dia mencintai orang lain? Rasulullah SAW tidak mengetahui apa yang harus dikatakan, dan malaikat Jibril AS datang dan berkata kepadanya, “Jangan terburu-buru mengambil keputusan tentang hal ini. Allah SWT berpesan untuk menanyakan kepada Fatima AS mengapa dia tidak menerima pernikahannya.” Rasulullah SAW berbalik kepada Siti Fatima AS dan bertanya, “Ya Fatima AS, engkau berkata tidak, tidak mengapa, ini adalah keputusanmu. Tetapi bisakah Aku mengtahui mengapa engkau menolaknya?” Dia berkata, “Aku hanya berkata tidak karena Aku tidak menerima kecuali dengan satu persyaratan. Ini bukan soal ‘Ali RA, KW tetapi berhubungan denganku. Jika engkau mengabulkan persyaratan itu, Aku akan menerimanya, jika tidak Aku tidak akan menikah dengan ‘Ali RA, KW.” Sekali lagi, malaikat Jibril AS datang kepada Rasulullah SAW, dan berkata, “Allah SWT memerintahkanmu untuk menanyakan apa persyaratan itu.” Sekarang perhatikan apa yang telah ditanamkan Allah SWT dalam hati Fatima AS, dan pertimbangkan kebaikan dan posisi wanita dalam Islam.

Rasulullah SAW berkata, “Ya Fatima AS apa yang menjadi syaratmu itu?” Dia berkata, itu sangat mudah. Jika engkau dan Allah SWT menerima, Aku menerimanya. Jika Allah SWT tidak menerimanya, Aku juga menolak untuk menikah. Ketika engkau datang ke dunia ini, engkau berkata, ‘umatku, umatku!’ dan selama hidupmu, siang dan malam, Aku mendengarmu di dalam rumah selalu memohon, ‘Umatku, Ya Allah SWT! Izinkan Aku untuk membawa umatku kepada-Mu Ya Allah SWT! Maafkanlah mereka! Murnikanlah mereka! Hapuskanlah dosa-dosa mereka, beban mereka dan kesulitan mereka!’ Aku mendengarmu, dan Aku tahu betapa menderitanya engkau untuk umatmu. Dan Aku tahu dari apa yang telah engkau ucapkan bahwa ketika engkau meninggal, engkau akan tetap mengucapkankan ‘umatku!’ kepada Allah SWT, juga di dalam kuburmu, dan di Hari Pembalasan nanti.

“Umatku” berarti seluruh umat manusia. Rasulullah SAW datang untuk seluruh umat manusia—tidak hanya untuk muslim. Salah besar untuk menafsirkan kata umatku dengan cara demikian. Rasulullah SAW datang untuk seluruh umat manusia. Pada saat itu tidak ada muslim dan beliau datang untuk seluruh umat manusia, Kristen, Yahudi dan penyembah berhala dari masa Jahiliyah. Orang-orang yang mempercayai beliau disebut muslim, mereka juga dikenal dengan “Ummatul Ijaba,” artinya umat bagi mereka yang menerima Rasulullah SAW. Mereka yang tidak mempercayainya disebut “Ummatud da’wa,” artinya umat (yang telah diberi) pesan, mereka berada di sisi luar, tetapi tetap saja Rasulullah SAW datang kepada mereka, dengan demikian mereka juga adalah umatnya.

Fatima AS melanjutkan, “Sejak Aku melihatmu—wahai Ayahku—sangat menderita untuk umatmu, dan karena cinta kepada umatmu juga tumbuh dalam hatiku, Aku menginginkan umatmu sebagai mas kawinku. Jika engkau menerimanya, Aku akan menikahi ‘Ali RA, KW.” Dia meminta seluruh umat Rasulullah SAW—Yahudi, Kristen, Muslim, Buddha, Hindu, semua orang tanpa diskriminasi. “Aku menginginkan mereka sebagai mas kawinku agar Aku dapat menerimanya saat Aku berada di Hari Pembalasan nanti, dan menerima mas kawin itu dari Allah SWT, sehingga Aku bisa memasukkan mereka ke dalam surgaku. Jika engkau tidak menerimanya, Aku tidak akan menikahi ‘Ali RA, KW.”

Apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah SAW? Beliau tidak bisa memberikan mas kawin semacam itu, karena itu tidak berada di tangannya. Beliau menunggu kedatangan Jibril AS, tetapi malaikat Jibril AS tidak datang dengan segera. Dia membiarkan Rasulullah SAW menunggu beberapa saat, lalu datang dan mengatakan, “Allah SWT menyampaikan Salam-Nya kepadamu, dan menerima permintaan Fatima AS, dan memberikan seluruh umat manusia sebagai mas kawin untuk menikahi ‘Ali RA, KW.” Dengan segera Rasulullah SAW bangkit dan salat syukur 2 rakaat untuk berterima kasih kepada Allah SWT.

Fatima AS tidak berkata, “Aku menginginkan uang atau perhiasan,” sebagaimana wanita sekarang, pria berusaha untuk menikahi gadis yang kaya dan sebaliknya. Dia hanya melihat umat Rasulullah SAW. Tidak ada satu pun yang akan berada di luar mas kawinnya, karena jika Allah SWT mengeluarkan satu orang saja, itu akan berarti dia telah ‘berzina’ dengan ‘Ali. Oleh sebab itu, dia akan mengambil seluruh umat manusia di bawah sayapnya dan mereka akan masuk surga bersamanya.

Ini berasal dari kekuatan satu orang wanita muslim. Dia membawa seluruh orang bersamanya untuk masuk surga. Apakah kalian berpikir seseorang akan tertinggal di luar? Karena dia, tak seorang pun akan tertinggal di luar. Bagaimana dengan sebagian besar wanita dalam Islam? Apa yang akan menjadi kekuatan mereka? Bagaimana dengan para wali? Bagaimana dengan rasul-rasul? Itulah sebabnya Allah SWT menciptakan umat manusia bersih, dan Dia menjaga tetap bersih dengan kekuatan seperti itu, dan sebagaimana Sayyidatina Fatima AS, Sayyidina ‘Ali RA, KW, Sayyidina ‘Umar RA, Rasulullah SAW, Grandsyekh, Mawlana Syekh Nazim QS, dan para wali dari Tarekat Naqsybandi—menjaga setiap orang agar tetap bersih dan murni.

Oleh sebab itu bergembiralah, puaslah dengan yang Allah SWT berikan kepada kalian. Jika kalian bergembira dan puas, kalian akan menemukan kegembiraan dan kepuasan sepanjang hidup kalian.

Wa min Allah at tawfiq


posted by abdullah @ 16.16   0 comments

Ayat Ulil Amr

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا أَطيعُوا اللَّهَ وَ أَطيعُوا الرَّسُولَ وَ أُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنازَعْتُمْ في‏ شَيْ‏ءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَ الرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ ذلِكَ خَيْرٌ وَ أَحْسَنُ تَأْويلاً

Hai orang- orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar- benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Poros pembahasan

Ayat di atas yang juga dikenal dengan ayat Itha’ah adalah salah satu ayat yang secara tegas menjelaskan kepemimpinan Amirul mukminin Ali a.s. Kata kunci dalam ayat ini adalah Ulil Amr di mana pendapat yang beragam telah mengemuka dan nantinya akan kita bahas.

Penjelasan dan Tafsir

Siapakah Ulil Amr itu?

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا أَطيعُوا اللَّهَ وَ أَطيعُوا الرَّسُولَ وَ أُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ Allah SWT dalam bagian ini memberitahukan kepada seluruh umat manusia di mana saja dan kapan saja hingga hari kiamat tentang kewajiban menaati tiga orang; Pertama, taat kepada Allah kemudian taat kepada Rasul-Nya dan terakhir taat kepada Ulil Amr.

فَإِنْ تَنازَعْتُمْ في‏ شَيْ‏ءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَ الرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ Pada bagian kedua dari ayat ini telah dijelaskan rujukan kaum muslimin saat berselisih dan bersengketa, seakan-akan ayat ini sedang mencetuskan sebuah sistem peradilan independen; Allah berfirman, Jika kalian berselisih tentang sesuatu maka mintalah kepada Allah dan Rasul-Nya untuk menghukumi dan jangan kalian bawa masalah itu kepada pihak asing (musuh Islam).

Dengan memperhatikan adanya keimanan terhadap Allah dan hari kiamat, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa mereka yang tidak berlandaskan sumber-sumber Islam dalam menghakimi sesuatu maka pada hakikatnya mereka bukanlah orang-orang yang mukmin terhadap Allah dan hari kebangkitan tersebut.

Poin lain yang patut dipahami adalah pada awal ayat dan pada jajaran orang-orang yang wajib ditaati kita temukan nama Ulil amr; akan tetapi pada bagian kedua ayat itu di mana orang-orang yang harus dirujuk dalam pertikaian tidak disebutkan lagi nama Ulil Amr lagi. Poin ini merupakan salah satu soal penting dalam rangka memahami ayat ini yang insya Allah akan dibahas pada kesempatan mendatang.

ذلِكَ خَيْرٌ وَ أَحْسَنُ تَأْويلاً Kalimat ini pada dasarnya merupakan sebab dari dua bagian ayat sebelumnya. Kenapa orang-orang beriman harus menaati Allah, Rasul dan Ulil Amr?

Kenapa dalam perselisihan tidak boleh memilih wasit dan hakim selain Allah dan Rasul-Nya? Karena tindakan semacam ini lebih baik bagi mereka dan sebaik-baik akibat.

Batasan ketaatan kepada Ulil amr

Ini merupakan hal penting dari ayat ini. Jika misdaq dari Ulil Amr ini jelas maka hal ini juga akan jelas pula. Karena para mufasir dalam hal siapakah Ulil Amr ini berbeda pendapat dan tak kurang 7 pendapat muncul ke permukaan.

Soal: sebelum membahas pendapat para mufasir tentang arti dari ulil amr, terlebih dahulu lazim bagi kita menjawab sebuah soal yang jawabannya itu akan banyak membantu lebih jernih dalam menyelami makna ulil amr. Apakah ketaatan terhadap Ulil Amr memiliki syarat-syarat atau seperti ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya; tanpa syarat dan batas apapun? Dengan ungkapan lain apakah ketaatan terhadap Ulil Amr terbatas pada satu masa, tempat dan lain-lain, atau ketaatan kepada wajib di segala situasi dan kondisi di mana dan kapanpun juga?

Jawab: Dhahir ayat mengatakan ketaatan kepada mereka mutlak dan tidak dibatasi oleh syarat-syarat apapun. Artinya dalam ayat ini, ketaatan terhadap mereka tidak disyaratkan mereka tidak melakukan kesalahan. Dalam ungkapan ketiga sebagaimana ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya secara mutlak wajib, maka kepada merekapun juga demikian. Oleh karena itu Ulil Amr harus terjaga dari kesalahan karena kewajiban taat kepada seseorang tanpa syarat tidak akan mungkin mengarah kepada seseorang yang berbuat kesalahan pastilah orang itu maksum dan terjaga darinya.

Bahkan para Marja’ taklid yang wajib ditaati oleh para muqallidnya jika melakukan kesalahan dalam sebuah perkara, maka dia sudah tidak dapat diikuti lagi. Sebagai sebuah contoh jika seorang marja’ saat malam ketiga puluh bulan Ramadhan tidak melihat hilal bulan Syawal dan memberitahukan bahwa puasa harus tetap dilakukan, sedang sebagain mukallidnya telah melihat hilal tersebut dengan mata kepala sendiri, maka dalam hal ini mereka tidak bisa bertaklid kepada marja’nya tadi, karena berkeyakinan marja’nya salah mengambil sebuah keputusan dalam masalah itu.

Oleh karena itu, ketaatan mutlak dan tanpa kenapa dan mengapa hanya dapat dilakukan kepada seseorang yang maksum dan tidak boleh dilakukan kepada selain mereka. Dan mengingat Allah SWT menyebut ketaatan kepada Ulil Amr itu mutlak maka kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang maksum.

Pendapat-pendapat Tentang Ulil Amr

Berkenaan dengan tafsir Ulil Amr terdapat pendapat yang beragam, berikut ini penjelasan pendapat-pendapat tersebut;

1. Ulil Amr adalah para pemimpin masyarakat sosial. Barang siapa dengan segala cara menjadi pemimpin masyarakat sosial dan pemimpin urusan-urusan kaum muslimin maka dia adalah Ulil Amr, dan tanpa kaid dan syarat wajib ditaati. Walaupun kepemimpinan itu diraih melalui kekuatan, tanpa restu dari masyarakat dan orang yang fasik. Oleh karena itu, bangsa Mongolia yang begitu ganas jika mereka dapat menundukkan masyarakat Islam maka mereka wajib ditaati.

Ada beberapa ulam Ahli sunah yang mendukung pendapat ini.

Akan tetapi apakah pendapat semacam ini dapat diterima oleh akal sehat?

Tidakkah Allah SWT mengutus para Nabi-Nya untuk menebar keadilan? Lalu bagaimana mungkin seorang yang zalim menjadi pengganti Rasul dan memberangus keadilan?

Sesuai hukum Islam yang manakah tafsir Ulil Amr semacam ini muncul? Apakah pencetus pendapat ini berpikiran kalau seorang pemimpin yang memegang tampuk kepemimpinan dengan kudeta, lalu menginjak seluruh nilai-nilai Islam, kemungkaran disebarkan dan makruf disingkirkan harus dianggap sebagai pengganti Rasul dan ketaatan kepadanya wajib dilakukan tanpa syarat?

Sayang sekali segelintir ulama mengiyakan pertayaan di atas dan pemimpin fasik seperti Mu’awiyah dan anaknya disebut sebagai Ulil amr.

2. Sebagian dari para mufasir berkeyakinan bahwa pendapat pertama tidak dapat dibenarkan dan mereka meyakini Ulil Amr maksum; terbebas dari kesalahan dan dosa. Mengingat manusia terkadang melakukan kesalahan dan tidak maksum oleh karena itu maksud dari Ulil Amr adalah seluruh masyarakat Islam, dan tanpa diragukan lagi Umat Islam maksum dan tidak mungkin seluruh umat Islam bersalah. Kendati setiap individunya bersalah. Oleh karena itu sebagaimana ketaatan kepada Allah Swt dan rasul-Nya sebuah kewajiban maka mengikuti umat adalah kewajiban juga!

Akan tetapi kita dapat melihat jelas kesalahan teori ini; karena bagaimana mungkin pendapat seluruh umat Islam bisa didapatkan? Apakah untuk mendapatkan pendapat seluruh umat, tidak perlu menanyakan kepada semua individu yang ada? Jika dikatakan setiap individu tidak perlu mengeluarkan pendapat akan tetapi wakil-wakil mereka yang bermufakat. Kita akan tetap bertanya apakah mungkin pendapat para wakil-wakil muslimin itu dikumpulkan?

Biasanya, pengambilan pendapat dari para wakil-wakil umat Islam sekalipun merupakan hal sulit terwujud; kemudian jika pendapat keseluruhan itu tidak perlu yang penting tolok ukurnya adalah mayoritas, maka saat mayoritas wakil-wakil umat menyetujui sebuah perkara maka pelaksanaannya adalah hal yang lazim karena mereka nama lain dari Ulil amr. Apakah hakikat Ulil amr ini adalah mayoritas wakil-wakil umat Islam?

3. Sebagian malah lebih jauh lagi melangkah, karena pengaruh dunia barat dan budaya semu mereka, kelompok ini meyakini demokrasi yang sedang dipraktekkan oleh Barat termasuk salah satu misdaq dari Ulil amr.

Apakah penafsiran dan pendapat semacam ini bukan termasuk tafsir bi ra’y? Apakah ini bukan praduga yang mengatasnamakan Al-Quran?! Apakah pemahaman semacam ini bukan termasuk menginjak-injak keagungan Al-Quran?

Terlepas dari itu semua, apa keistimewaan demokrasi barat itu? Mereka sendiri menerima bahwa metode ini bukan yang ideal, mereka menjalankannya karena keterpaksaan;karena jika ini tidak dilaksanakan mereka akan tertimpa kesulitan yang lebih fatal lagi, akhirnya untuk mencari hal yang lebih ringan efeknya (Aqallu Dhararain) mereka memilih demokrasi. Karena bagaimana mungkin seorang yang berakal normal mau membenarkan bahwa jika dari 100 persen wakil rakyat hanya 50 persennya yang mengikuti sebuah pemilihan, lalu mereka memilih seseorang calon pemimpin dengan 26 persen suara dan yang calon lainnya 24 persen suara, maka calon yang memiliki 26 persen suara terpilih menjadi pemimpin! Maka ini sebuah keadilan!?

Demokrasi, tumbuh dan berkembang di Amerika, dan untungnya akibat pemilu terakhir yang terjadi di negeri Paman Syam ini dan terbongkarnya kecurangan / kebobrokan Pemilu terakhir di sana membuat semua kalangan membuka mata dan sadar akan esensi sebenarnya dari sebuah demokrasi. Mereka yang hidup dengan sistem komputerisasi namun masih bersengketa tentang kelebihan suara sekitar 10 hingga 15 suara. Sehingga manakah yang lebih baik menghitung dengan tangan atau dengan komputer!!!

Hal semacam ini merupakan bukti konkret ketidakpercayaan para pemuja demokrasi dengan sistem yang sedang dijalankan! Dunia sudah waktunya menertawakan sistem ini! Para muhaqiq hendaknya lebih gigih lagi meneliti peristiwa ini supaya esensi para pengklaim demokrasi ini jelas di depan semua orang khususnya bagi mereka menjadikannya Ka’bah obsesi mereka.

Al-hasil, menafsirkan Ulil amr dengan demokrasi barat yang ada sekarang adalah penafsiran yang bertentangan dengan dhahir ayat yang mulia ini, bahkan itu sebuah kezaliman besar terhadap al-Quran.

4. Pendapat mayoritas ulama Syi’ah adalah Ulil amr harus maksum; terjaga dari semua dosa, tidak mungkin dia lebih dari satu orang dalam setiap masa. Pada masa pertama Islam, dia adalah sosok suci Rasulullah Saw, lalu Amirul mukminin a.s. dan dilanjutkan oleh para imam setelahnya yang berjumlah 11 orang.

Penjelasan lebih lanjut: a. Sebagaimana telah dijelaskan Ulil amr sesuai ayat mulia ini (ketaatan terhadap Allah, Rasul-Nya dan Ulil amr mutlak dan tanpa batasan) harus maksum, sehingga kita dapat mengikutinya secara mutlak. Artinya Ulil amr haruslah seorang yang sudah memiliki asuransi bebas dari dosa dan kesalahan. Dengan ungkapan lain kemaksuman adalah kekuatan spiritual dan ketakwaan yang tinggi di mana karenanya sosok maksum tidak berbuat dosa dan kesalahan tidak akan muncul dari mereka, walaupun mereka kemampuan dan pilihan untuk melakukannya. Namun karena ketakwaan maha tinggi yang mereka sandang mereka tidak melakukannya.

Dengan ungkapan ketiga, takwa memiliki tingkatan yang beragam. Pada satu tingkat takwa menghindar dari dosa-dosa besar, di mana saat itu dilakukan langsung bertaubat; pada tingkatan berikutnya, selain menjauhi dosa besar dia juga menjauhi dosa-dosa kecil dan saat dilakukan dia cepat-cepat bertaubat. Tingkatan ketiga yang lebih tinggi dari dua tingkat di atas adalah selain dosa besar dan kecil dia juga meninggalkan hal-hal yang makruh. Tingkatan takwa begitu seterusnya tambah tinggi hingga sampai pada tingkatan tertingginya di mana manusia terjaga dari dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, kemaksuman bukanlah seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang yang menganggapnya semacam jabr (determinasi), melainkan sebuah tingkatan tertinggi dari sebuah ketakwaan.

b. Ulil amr yang maksum tidak mungkin seluruh umat Islam, para ulama, wakil-wakil umat atau mayoritas dari mereka. Dia harus seorang person dan sosok tertentu.

c. Mengingat kemaksuman sebuah kekuatan spiritual dan tingkatan tertinggi ketakwaan yang tidak bisa diketahui tolok ukurnya oleh manusia biasa, maka yang berhak mengenalkan seorang maksum adalah Allah SWT, Rasulullah atau sosok-sosok maksum lain yang sudah terbukti kemaksumannya.

Konklusinya: pertama, Ulil amr harus maksum; Kedua, harus seorang yang ditentukan; ketiga, penentuan maksum dan Ulil amr harus dari sisi Allah SWT.

Penafsiran Ayat Dalam Kaca Mata Riwayat

Terdapat riwayat yang begitu banyak yang telah mengenalkan kepada kita sosok maksum yang dimaksud oleh ayat Athi’ullah ..., yang paling penting darinya adalah riwayat Tsaqalain.

Sesuai riwayat ini, Rasulullah Saw pada detik-detik akhir kehidupan beliau bersabda:” Sesungguhnya aku telah meninggalkan di antara kalian dua hal yang penuh berharga, di mana jika kalian berpegang teguh kepada keduanya setelah Kepergianku, niscaya kalian tidak akan tersesat... (kedua hal itu) kitabullah Ahlul baitku.”[1]

Arti hadis ini demikian, Al-Quran terjaga dari kesalahan dan kekeliruan, sehingga jika orang berjalan di atas panduannya dia akan terjaga dari kesalahan, dengan demikian Ahlul bait nabi juga harus maksum, sehingga berpegang teguh dengannya juga membuat manusia terjauhkan dari kesalahan. Karena tidak mungkin Ahlul bait tidak maksum sedang orang yang mengikutinya terjaga dari kesalahan.

Oleh karena itu, sesuai riwayat ini, Ahlul bait suci dari dosa dan sebagaimana kita sebutkan dalam penjelasan ayat Athi’ullah, Ulil amr harus orang yang sudah terpilih dari sisi Allah SWT, maka dia haruslah Ahlul bait nabi satu demi satu.

Urgensitas Hadis Tsaqalain

Hadis Tsaqalain termasuk hadis yang sangat penting dalam permasalahan wilayah dan imamah. Hadis ini dari segi dilalah begitu kuat dan jelas dan dari segi sanad, riwayat ini termasuk riwayat mutawatir yang disebut dalam sumber-sumber Ahli sunah dan Syi’ah. Dan dari kumpulan sumber-sumber tersebut dapat dipahami bahwa Rasulullah Saw menegaskan hal tersebut tidak sekali saja. Riwayat di atas dapat dijumpai di dalam kitab-kitab rujukan utama Syi’ah; At-Tahdzib, Al-Istibshar, Al-Kafi, Man La Yahduruhul Faqih. Sedang dalam Ahli sunah dapat dirujuk dalam kitab-kitab standar mereka yaitu Sahih Sittah. Perlu ditekankan juga hadis ini bukan berada di enam kitab hadis itu saja, akan tetapi ada kitab-kitab lain yang menyebut hadis tersebut, seperti Hakim pemilik kitab Mustadrakush Shahihain di mana dia mengumpulkan hadis-hadis sahih yang tidak dikumpulkan oleh Bukhari dan Muslim dalam sahih mereka.

Hakim mengatakan:” Semua riwayat yang dimuat dalam Mustadrak ini sesuai dengan tolok ukur Bukhari dan Muslim.”[2]

Riwayat Tsaqalain disebut dalam kitab Sahih Muslim,[3] Sunan Tirmizi dan Mustadrak Hakim,[4] berikut ini riwayat tersebut menurut hikayat Sahih Muslim. Yazid bin Hayyan berkata: bersama Hashin bin Sabrah dan Umar bin Muslim aku pergimenemui seorang sahabat nabi yang ternama, Zaid bin Aram. Hashin berkata kepada Zaid, Wahi Zaid bin Arqam kamu telah mendapatkan kebanggaan yang besar, kamu bersama nabi, mendengar hadis-hadisnya, berperang di sisinya, shalat di belakangnya, sungguh ini adalah kebanggaan yang maha besar! Sekarang tolong sampaikan kepada kami hadis yang pernah engkau dengar langsung dari beliau.

Zaid bin Arqam berkata: usia sudah lanjut, sehingga hadis-hadis yang aku hafal sebelumnya telah banyak yang hilang dari ingatan. Kemudian dia menukil hadis berikut ini kepada kita: Pada suatu hari di Gadir Khum Rasulullah Saw berpidato di hadapan kita, setelah memanjatkan puja puji ke hadirat Allah dan nasihat-nasihat beliau bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah manusia, sebentar lagi utusan Allah (malaikat pencabut nyawa) akan datang dan aku akan memenuhi panggilannya. (oleh karena itu) aku akan tinggalkan di antara kalian dua hal yang berharga; yang pertama kitabullah, di dalamnya hidayah dan cahaya, maka berpeganganlah kepada kitab itu. Kemudian beliau menganjurkan kita untuk cinta dan memegang kitab suci itu. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya, dan keluargaku[5].

Selain tiga kitab di atas, riwayat itu juga dapat dilihat dalam kitab Khashaish Nasai.[6] Yang menarik adalah Ibnu Hajar, salah seorang fanatik di mana dia menulis sebuah kitab anti Syi’ah yang berjudul, Ash-Shawaiqul Muhriqah. Banyak poin yang dia tuduhkan terhadap Syi’ah, namun dia tetap menukil riwayat tersebut.[7]

Yang lebih menarik lagi, Ibnu Taimiyah, pendiri sekte sesat Wahabiyah dalam kitabnya Minhajus Sunah, juga tak ketinggalan menukil hadis Tsaqalian.[8]

Konklusinya, hadis Tsaqalian merupakan hadis mutawatir yang bukan hanya dinukil oleh kitab-kitab Syi’ah, akan tetapi disebut juga dalam kitab-kitab Ahli sunah.[9]

Ini menunjukkan bahwa riwayat di atas memiliki urgensitas khusus. Oleh karenanya Imam Khomeini r.a. memulai wasiat bersejarah beliau dengan hadis mulia ini.

Dengan hadis Tsaqalain akan terbukti bahwa Ulil amr adalah para imam di mana setiap masa setiap dari mereka wajib ditaati tanpa syarat dan kaid.

Selain hadis Tsaqalain terdapat riwayat-riwayat khusus lain yang menjelaskan kondisi ayat mulia ini.

Berikut ini dua contoh darinya:

  1. Syekh Sulaiman Hanafi Al-Qunduzi dalam kitab Yanabi’ul mawaddah, halaman 116 menulis: seseorang bertanya kepada Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.: hal apakah yang terkecil yang dapat mengeluarkan manusia dari jalan yang lurus dan dia akan termasuk orang-orang yang sesat? Imam menjawab: Hal itu adalah melupakan Hujjah allah dan tidak menaatinya. Barang siapa yang melanggar perintah Hujjah ilahi maka dia adalah orang yang tersesat.

Orang tadi bertanya kembali tolong jelaskan lebih lanjut siapa yang anda maksud dengan Hujjah ilahi itu? Imam menjawab: Hujjah ilahi adalah orang-orang yang di dalam ayat 59 surah Annisa’ disebut sebagai Ulul Amr. Orang itu untuk ketiga kalinya bertanya siapa itu Ulul Amr tolong lebih Gamblang lagi? Imam dalam menjawab pertanyaan ini bersabda: Dia adalah sosok yang sering kali Rasulullah Saw mengucapkannya: Sesungguhnya aku tinggalkan dua hal di antara kalian di mana kalian tidak akan tersesat selamanya jika berpegang teguh kepada keduanya kitab allah dan Ahlul Baitku. Dalam riwayat ini begitu jelas hubungan antara hadits Tsaqalain dengan Ulul Amr.

  1. Abu Bakar, Mukmin Sirozi menukil dari Ibnu Abbas: Rasulullah Saw saat hendak menuju perang Tabuk mengambil keputusan supaya Ali a.s. menetap di kota Madinah.[10] Ali a.s. (kendati mengetahui falsafah kebijakan Rasul tapi untuk membendung upaya-upaya kaum munafik) bertanya kepada Rasulullah Saw: Anda telah meninggalkanku di kota Madinah di samping kaum wanita dan anak-anak dan menghalangi diriku untuk turut serta mendapat perjuangan yang besar untuk berperang. Rasulullah Saw bersabda: apakah engkau tidak rela posisimu di depanku seperti posisi Harun terhadap Musa saat Musa berkata: Carilah menggantiku di tengah-tengah kaum dan perbaikilah maka allah SWT bersabda: Dan Ulul Amr dari kalian.

Hasilnya adalah ayat mulia ini tanpa melihat riwayat-riwayat telah menunjukkan bahwa Ulul Amr adalah orang-orang yang sudah ditentukan dan terjaga dari dosa-dosa yang telah dilantik oleh allah SWT sedang dengan merujuk kepada riwayat-riwayat dapat dipahami bahwa sosok yang dimaksud itu adalah para imam dia belas yang telah diyakini oleh kaum Syiah, mereka adalah Ali dan kesebelas cucuknya.

Pertanyaan-pertanyaan dan Jawaban-Jawaban penting

Terdapat berbagai pertanyaan seputar ayat mulia ini, di mana yang terpenting darinya adalah tiga pertanyaan berikut:

Pertanyaan pertama, Jika Ali a.s. misdaq dari Ulil amr seperti yang diyakini oleh Syi’ah, lalu kenapa ketaatan terhadapnya di zaman Nabi Saw tidak wajib, padahal ayat ini mengatakan bahwa ketaatan kepadanya sama seperti ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya? Dengan kata lain di zaman Nabi, Ali bukanlah pemimpin (pemberi titah) yang harus diikuti oleh seluruh muslimin; oleh karena itu, penafsiran di atas tidak sesuai dengan ketaatan yang tersirat dalam ayat.

Jawab, pertanyaan ini dapat dijawab dengan dua bentuk:

  1. Kita harus memahami arti Rasul dan Ulil amr. Jika perbedaan kedua kata ini jelas maka secara otomatis jawaban pertanyaan ini akan jelas pula. Rasul adalah orang yang diutus oleh Allah SWT untuk menjelaskan hukum-hukum dan menyebar luaskan agama di tengah-tengah manusia; dengan kata yang lebih simpel lagi Rasul bertugas menjelaskan hukum dan penyebarluasannya.

Sedangkan Ulil amr tidak memiliki tugas peletakan hukum, akan tetapi dia bertugas menjaga kelestarian hukum itu dan penerapannya. Jika kita mau umpamakan dengan sistem pemerintahan sekarang, Rasul adalah badan Legislatif sedang ulil amr adalah badan Eksekutif.

Dengan penjelasan tadi, kita mengetahui bahwa badan Legislatif di zaman Rasul adalah beliau sendiri, sebagaimana badan pelaksananya juga beliau; oleh karena itu pada zaman hidupnya beliau Saw beliau merangkap dua gelar tersebut; Rasul juga Ulil amr, sebagaimana Nabi Ibrahim a.s. di mana selain rasul dan nabi beliau juga sampai kepada posisi Imamah dan pelaksanaan hukum sekaligus. Dengan demikian posisi risalah adalah posisi legislatif sedang imamah adalah posisi eksekutif dan pada zaman rasul kedua-duanya dipegang oleh beliau. Sedangkan pada masa setelah beliau, adalah sosok maksum yang telah dilantik oleh Allah dan dipublikasikan oleh rasul dan itu adalah ulil amr, sosok itu tidak mungkin siapa-siapa selain sosok Ali a.s. dan setelahnya para Imam lain yang datang silih berganti, karena selain Ali a.s. dan para anak cucunya tidak ada orang lain yang mengklaim dirinya telah mendapat mandat untuk itu.

Hasilnya, klaiman bahwa ketaatan terhadap ulil amr harus aktual tidak merusak penetapan Ali a.s. dan para imam yang lain sebagai ulil amr, sebagaimana hal ini juga dipahami dari berbagai riwayat.

  1. Jawaban kedua yang dapat diajukan adalah Ali a.s. pada masa Nabi Saw juga pernah menjadi ulil amr walaupun singkat masanya yaitu saat Rasul Saw memimpin peperangan Tabuk dan Ali a.s. menetap di Madinah sebagai seorang khalifah rasul Saw. Untuk lebih memahami poin ini berikut ini penjelasan singkat tentang perang Tabuk.

Perang Tabuk

Perang Tabuk merupakan perang terakhir yang dialami oleh Rasulullah Saw sepanjang risalah dan detik-detik kehidupan beliau. Peperangan ini terjadi di kawasan paling utara Hijaz, perbatasan antara Hijaz dengan Romawi timur.

Saat Islam berkembang dan asas-asas pemerintahan semakin kokoh di kota Madinah serta gemanya mulai terdengar di seluruh penjuru dunia. Para tetangga negeri Islam ini, termasuk Romawi timur yang tak lain (Palestina dan Suriah) merasa terancam dan untuk membendung pengaruh Islam ke negeri mereka, maka diambillah keputusan untuk menyerang kaum muslimin.[11] Untuk merealisasikannya bangsa Romawi mengirim sekitar 40 ribu bala tentara bersenjata lengkap menuju Hijaz.

Kabar ini tercium oleh kaum muslimin dan Rasulullah Saw. Rasulullah Saw menganjurkan kaum muslimin untuk menyambut para musuh dan tidak menunggunya mereka menyerang ke dalam kota Madinah. Ini adalah taktik perang yang sangat baik; karena kondisi defensif sangat berbahaya, maka penyerangan dilawan dengan serangan. Pertahanan terbaik adalah menyerang.

Kebetulan masa peperangan ini adalah masa yang tidak baik; karena dari satu sisi cuaca panas Hijaz dan cadangan makanan kaum muslimin sudah habis dan sumber makanan belum dapat dimanfaatkan, sedang dari sisi ketiga jarak antara Madinah dan Tabuk begitu jauh yang harus ditempuh dengan kaki oleh kaum muslimin, mengingat tumpangan yang terbatas. Mereka harus antrei untuk menaiki tunggangan yang ada. Al-hasil, titah untuk bergerak keluar dan terpaksa cuci gudang-gudang makanan dilakukan, hasilnya sedikit kurma yang sudah kering atau bahkan sudah rusak dapat dikumpulkan. Pasukan berjumlah 30 ribu orang dengan dikomandoi oleh Rasulullah Saw sendiri bergerak menuju Tabuk. Rasa lapar dan dahaga telah menyiksa bala tentara muslimin. Kaki-kaki para pasukan sudah banyak yang bengkak karena perjalanan yang sangat panjang, namun dengan berbagai problem itu perjalanan terus dilanjutkan. Pasukan Islam menemui berbagai kesulitan baik di waktu pergi atau pulangnya sehingga pasukan ini disebut dengan pasukan kesulitan (Jaisyul ‘asrah).

Di saat pasukan Romawi mendengar pasukan muslimin yang berjumlah 30 ribu orang sedang bergerak dari Madinah, menempuh perjalanan yang begitu panjang dan dengan perbekalan yang sangat minim namun dengan rasa cinta dan iman menyambut para musuhnya, akhirnya mereka mengambil keputusan untuk mundur dan kembali. Kaum muslimin saat tiba di Tabuk mendengar bersyukur kepada Allah atas mundurnya bala tentara musuh.

Rasulullah Saw dalam kesempatan ini bermusyawarah dengan kaum muslimin, dan memilih apakah memilih kembali ke kota Madinah atau mengejar musuh dan berperang di Syamat. Hasil musyawarah adalah pendapat pertama yaitu kembali ke Madinah; mengingat Islam masih seusia jagung dan belum memiliki banyak pengalaman dalam menguasai bangsa lain sehingga mengambil tindakan semacam ini adalah hal yang sangat berbahaya.

Dengan memperhatikan penjelasan di atas, dari berbagai sudut khususnya panjangnya waktu absen Rasulullah dan kaum muslimin dan jauhnya mereka dari Madinah, perang Tabuk berbeda dari peperangan yang lain. Dan kemungkinan munculnya kudeta kaum munafik dan konspirasi dari pihak luar sangat terbuka lebar. Oleh karena itu, pada waktu absennya Nabi harus ada seseorang yang sangat kuat yang menggantikan beliau di pusat pemerintahan dan menghalau berbagai konspirasi yang dapat terjadi. Orang itu bukan siapa-siapa lagi selain Ali a.s.

Dengan demikian Imam Ali a.s. pada zaman Rasulpun –kendati sebentar- pernah menjadi Ulil amr dan ketaatan kepadanya adalah hal yang wajib dilakukan.

Pertanyaan kedua, Ulil amr berbentuk jamak lalu bagaimana mungkin Ali a.s. yang seorang diri menjadi misdaq dari kata ini?

Jawab: Memang benar Ulil amr jamak, dan maksudnya bukan Ali a.s. saja, akan tetapi mencakup para imam 12 Syi’ah. Sebagaimana hadis Tsaqalain disebut Ahlu baiti, jamak akan tetapi bukan khusus untuk beliau tapi mencakup seluruh para imam yang lain.

Bukti ungkapan ini adalah sebuah riwayat yang terdapat dalam kitab Yanabi’ul mawaadah tadi. Dalam riwayat tadi Ulil amr telah ditafsirkan dengan hadis Tsaqalain dan telah kita katakan maksud dari ‘Itrati Ahli baiti dalam hadis Tsaqalain adalah para Imam maksum a.s.

Hasilnya, maksud dari Ulil amr adalah para imam 12 Syi’ah di mana di masanya masing dia adalah Ulil amr yang ketaatan kepada mereka mutlak tanpa kaid dan syarat apapun bagi semua.

Pertanyaan ketiga: Kenapa Ulil amr tidak diulang di akhir ayat sehingga menjadi rujukan pula dalam mengatasi segala pertikaian di antara muslimin?

Jawab: Pertama, sanggahan ini tidak hanya mengarah kepada Syi’ah akan tetapi kepada Ahli sunah juga, karena mereka juga menghadapi pertanyaan ini, entah siapa misdaq dari Ulil amr yang mereka lontarkan.

Kedua, kenapa tidak diulang kata Ulil amr dalam bagian terakhir ayat itu disebabkan perbedaan antara Rasul dan kata ini yang telah dijelaskan di atas. Rasul penjelas hukum, sedang Ulil amr pelaksananya. Dan jelas jika seseorang memiliki keraguan tentang hukum-hukum maka dia harus pergi ke peletak hukum bukan kepada pelaksananya.

Atas dasar ini, pengulangan kata ini bukan sebuah kekurangan dalam ayat mulia ini, akan tetapi sebuah bentuk kefasihan dan balagah lain dari Al-Quran karim.

Poin yang perlu diperhatikan adalah seluruh Imam adalah pelaksana undang-undang Islam sedang apa yang mereka jelaskan tentang hukum-hukum tersebut mereka ambil dan pelajari dari kakek mereka Rasulullah Saw.

Dalam Jami’ Hadis Syi’ah, jilid 1, halaman 183, terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa seluruh penjelasan hukum yang dilakukan oleh para Imam diterima dari Rasulullah Saw.

Hasilnya, Ulil amr bukan berarti peletak hukum akan tetapi berarti pelaksananya, sehingga dalam bagian terakhir ayat yang berkaitan dengan penyelesaian polemik tidak diulang.

Pesan-pesan Ayat

  1. Pesan terpenting ayat mulia ini adalah kaum muslimin hendaknya pasrah secara utuh di hadapan hukum-hukum Islam dan mengamalkan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya tanpa pertanyaan apapun, tidak memilih-milih sehingga apa yang tidak sesuai dengan kehendak hatinya tidak dilakukan sedang yang sesuai dilakukan dengan segera; orang semacam ini jelas bukan seorang muslim sejati.

Al-Quran dalam hal ini memiliki ungkapan yang sangat indah, yang terdapat dalam ayat ke-65 surah Nisa’:” Sumpah demi tuhanmu, mereka bukan golongan mukmin sampai mereka memintamu sebagai hakim atas apa yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam dirinya atas keputusan yang engkau ambil dan mereka pasrah apa adanya.”

Ayat ini merupakan tolok ukur yang baik dan detail untuk mengetahui sejauh mana kepasrahan seseorang; sesuai ayat ini, seorang muslim hakiki setelah hukum dikeluarkan oleh Rasul kendati merugikannya, bukannya sakit hati akan tetapi dengan jiwa pasrah menerima dan mengamalkannya. Artinya dalam ucapan dan tindakan serta dalam lubuk hati dia pasrah terhadap ketentuan Allah SWT. Jika tidak demikian dan dia merasa keberatan menerima sebuah hukum maka dia bukanlah seorang muslim sejati.

Imam Ali a.s. dalam sebuah hadis yang begitu indah bersabda:” Aku akan menafsirkan Islam sebuah tafsir yang belum dilakukan oleh sebelumku: Islam adalah penyerahan mutlak, penyerahan adalah keyakinan (karena selagi manusia belum meyakini sesuatu di tidak akan pasrah seutuhnya) dan yakin terlahir dari pembenaran, dan tasdik merupakan sebuah ikrar, dan ikrar adalah rasa tanggung jawab dan rasa tanggung jawab itu adalah amal perbuatan, (karena rasa tanggung jawab tanpa amal tak memiliki nilai sama sekali).”[12]

Sesuai riwayat yang sangat indah ini, Islam dimulai dari lubuk hati manusia, tumbuh di sana dan melalui beberapa tahapan dia berubah menjadi sebuah amal perbuatan; artinya Islam tanpa keyakinan di dalam hati, dan hanya mementingkan amal saja itu tidak memiliki nilai, sebagaimana keyakinan saja tanpa dibarengi oleh amal perbuatan juga tidak cukup. Oleh karena itu Islam sekumpulan keyakinan dan amal perbuatan yang kedua-duanya merupakan hal yang lazim.

  1. Kata amr memiliki konotasi positif. Dalam kata ini tersimpan kekuatan. Ini berarti Ulil amr harus memiliki kekuatan tidak bisa bersumber dari permintaan manusia. Kata ini juga dapat ditemukan dalam amar ma’ruf, di mana harus bersumber dari posisi yang cukup kuat; akan tetapi perlu diperhatikan terjadinya sebuah perbuatan dari posisi yang kuat tidak bertentangan dengan lemah lembut. Kisah Imam Hasan Al-Mujtaba a.s. yang begitu terkenal merupakan bukti yang baik dalam hal ini: seorang dari Syam tiba di kota Madinah. Propaganda Mu’awiyah dan penodaan kehormatan Ali a.s. dan keluarganya telah tersebar luas di Syam segala penjuru kota itu telah mengetahuinya, yang mengakibatkan semua penduduknya antipati dan membenci beliau. Orang Syam tersebut saat melihat seorang sosok yang menyeberangi jalan ditemani beberapa orang bertanya: siapakah orang itu? Dijawab dia Hasan putra Ali bin Abi Thalib. Seketika itu juga dia mengeluarkan ucapan, umpatan dan ejekan kepada beliau. Imam Hasan a.s. berdiri dan diam. Setelah celotehan orang tersebut selesai, Imam (kendati mampu menyuruh para sahabatnya untuk menyiksa atau bahkan mengeksekusinya, namun beliau tidak melakukannya kendati beliau sedang berada di atas puncak kekuatan) bersabda:” dari raut mukamu tampaknya engkau bukan penduduk sini dan engkau tidak memiliki tempat menginap di sini, silahkan ke rumah dan jadilah tamu kami. Pintu rumah kami selalu terbuka lebar bagi orang-orang asing, aku akan menjamumu, jika engkau punya hutang aku akan membayarnya dan jika engkau melarikan diri dan ada yang mengejarmu, aku akan melindungimu, dan jika engkau meminta maaf kita akan mengabulkannya.

Orang Syam yang sudah dibakar oleh amarah dan kebencian itu setelah melihat perlakuan imam yang begitu menyejukkan tertegun dan membasuh mukanya dengan air dingin. Dia berbalik 180 derajat, (mungkin dalam hatinya dia berkata: Ya Allah apakah yang aku saksikan ini mimpi atau sebuah kenyataan?, orang yag sudah dihujani cercaan dan makian sanggup berbuat hal seperti itu?)

Orang Syam itu berkata: wahai putra Rasulullah Saw, sesaat aku melihatmu (karena propaganda di Syam) sebagai orang yang paling jelek di muka bumi. Akan tetapi sekarang anda adalah orang yang paling baik di atas muka bumi.[13]


[1] Mizanul hikmah, bab 161, hadis ke-917.

[2] Ibnu Abil Hadid berkata:” Aku bertanya kepada ustadku, Abdul Wahab, Apakah seluruh hadis-hadis yang sahih sudah dicatat dalam sahih sittah atau ada riwayat-riwayat sahih yang belum dicatat dalam keenam kitab tersebut? Dia menjawab, terdapat riwayat yang begitu banyak yang tidak tercatat dalam kitab-kitab itu. Aku bertanya kembali: Hadis yang berbunyi La saifa illa dzul fiqar la fata illa Ali, (yang turun berkenaan dengan Imam Ali a.s.) sahih atau tidak? Dia menjawab, Hadis itu sahih dan masih banyak lagi riwayat-riwayat sahih lain yang tidak dimuat di dalam sahih sittah.

[3] Sunan Tirmizi, jilid 5, halaman 662, hadis 3786. (Sesuai penukilan kitab Feyam Quran, jilid 9, halaman 64).

[4] Mustadrak Sahihain, jilid pertama, halaman 93 dan jilid 3, halaman 109.

[5] Shahih muslim, jilid 4, halaman 1873.

[6] Khashaish Nasai, halaman 20. (Sesuai penukilan Feyam Quran, jilid 9, halaman 66).

[7] Ash-Shawaiqul Muhriqah, halaman 226, cetakan Abdul Lathif,Mesir. (Sesuai penukilan Feyam Quran, jilid 9, halaman 67).

[8] Minhajus Sunah, jilid 4, halaman 104. (Sesuai penukilan Feyam Quran, jilid 9, halaman 69).

[9] Untuk lebih lanjut dapat dilihat dalam kitab Feyam Quran, jilid 9, halaman 62 dan selanjutnya, juga kitab Ihqaqul hak, jilid 4, halaman 438 dan selanjutnya.

[10] Sebab ditinggalkannya Sayyidina Ali di Madinah dikarenakan medan peperangan Tabuk jauh terletak dari kota Madinah dan terdapat kemungkinan saat nabi tidak ada para munafik yang berada di dalam kota Madinah melakukan konspirasi dan bekerja sama dengan munafik di luar kota untuk mengacau suasana. Oleh karena itu rasul Saw melantik seorang yang terkuat di antara para sahabat yang dapat menduduki posisi beliau.

[11] Negeri Hijaz sebelum Islam tidak pernah dilirik oleh bangsa-bangsa besar; karena baik dari sudut rakyatnya tidak pernah dianggap sebuah ancaman atau dari segi budaya atau sumber-sumber ekonomi penting tidak terwujud di sana. Saat itu masyarakat Hijaz dikenal dengan bangsa setengah liar yang selalu sibuk berperang dan sengketa, sehingga tidak akan muncul ancaman bagi tetangga mereka. Oleh karena itu, andai Hijaz dihibahkan kepada bangsa-bangsa besar saat itu, mereka pasti akan menolak. Dengan sebab inilah para imperialis tidak pernah bermimpi untuk menjajah tanah ini. Akan tetapi setelah munculnya Islam dan persatuan di antara mereka juga munculnya budaya baru, para tetangganya merasa terancam eksistensinya.

[12] Nahjul balagah, Kalimat qishar (ungkapan singkat), nomor 125.

[13] Muntahal Amal, jilid 1, halaman 417.

posted by abdullah @ 15.42   0 comments
about me
Foto Saya
Nama:
Lokasi: jakarta, dki jaya, Indonesia

a servant

Udah Lewat
Archives
Template by
Blogger Templates
© MY SOUL ON HIM